Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Januari 2014

The Power of Hope from Our God

          Harapan. Tidak ada seorang pun yang tidak mengenal kata itu. Harapan adalah kata terindah yang dimiliki dan diyakini oleh banyak orang. Harapan adalah lilin terakhir yang tetap hidup meskipun lilin-lilin yang lainnya telah padam, dan harapan adalah lilin yang sanggup menghidupi kembali lilin-lilin yang telah padam tersebut. Harapan memang hadir bagaikan api lilin, meskipun kecil tapi sanggup menerangi sebuah ruangan. Api lilin harapan itu memang hanya sedikit, tapi jangan anggap remeh api kecil itu. Jika api kecil itu jatuh di atas benda-benda yang mudah terbakar, maka api kecil itu akan menjalar jauh dan semakin lebar sehingga sebuah rumah besar ataupun gedung bertingkat sanggup dihanguskan sampai tak tersisa, menjadi rata dengan tanah. Demikian juga harapan yang sanggup membakar diri kita, bukan dibakar untuk kalah menjadi abu, tetapi untuk menang menjadi arang. Arang yang tetap utuh meski dibakar, arang yang tidak hangus menjadi abu saat dibakar, tetapi malah memancarkan sinar api yang hangat, bahkan dapat menimbulkan api kecil yang sanggup membakar.


          Harapan adalah sesuatu yang membuat kita kembali bangkit, bangun dari keterpurukan dan menjadi pribadi yang lebih baik dari yang lalu. Harapan adalah pemicu agar kita berlari maju, tidak hanya berhenti pada sebuah titik, terduduk lemas dan tenggelam dalam kesedihan. Harapan adalah sesuatu yang membuat kita tetap berdiri tegar di tengah gelombang kehidupan yang mematikan. Harapan adalah sesuatu yang membuat kita kuat menghadapi masa-masa keterjatuhan yang paling dalam. Karena harapan sering muncul ketika kita berada di titik nadir, yakni titik dimana kita benar-benar seperti sebuah rumah yang terkena gempa dan menjadi rata dengan tanah. Suatu titik dimana kita benar-benar merasa tidak berdaya dan tidak memiliki arti dalam menjalani kehidupan. Suatu titik dimana kita merasa bahwa kita sudah tidak berharga lagi dan lebih baik pergi meninggalkan dunia ini. Tapi di balik titik nadir itu masih ada setitik harapan yang menghidupkan semangat. Meskipun api harapan itu sangat kecil, tetapi sanggup membakar semangat bagi mereka yang berharap.


          Banyak harapan yang muncul dari ketakutan dan kondisi buruk yang dialami oleh manusia. Harapan untuk tetap bertahan hidup bagi mereka yang sedang dilanda bencana kelaparan atau bagi mereka yang divonis menderita penyakit yang dapat merenggut nyawa, harapan untuk sembuh dari penyakit menahun atau penyakit yang tidak ada obatnya, harapan untuk bisa sukses saat mengalami kegagalan yang beruntun, harapan untuk selamat dari maut akibat bencana alam yang memporakporandakan negeri tempat mereka tinggal, harapan agar terciptanya kehidupan yang damai saat negerinya mengalami perang besar-besaran, harapan agar dapat bertahan hidup meski hanya sebatang kara di dunia ini, harapan untuk dapat bersekolah meski kondisi ekonomi keluarga tidak mendukung, harapan untuk bebas dan merdeka di saat kondisi dijajah dan diperlakukan diskriminatif, harapan untuk tetap bertahan meski tidak ada kemungkinan sekecil apapun untuk bertahan, dan masih banyak lagi.


          Harapan bukanlah suatu hal yang sulit diciptakan, karena pada dasarnya setiap manusia memiliki Alam Ideal dimana dia berharap akan hal ini dan hal itu, menginginkan hal ini dan hal itu terjadi di dalam kehidupannya. Manusia memiliki harapan agar dapat merealisasikan berbagai impiannya, menggapai banyak cita-citanya dan merasakan berbagai pengalaman. Terlebih lagi, manusia memiliki harapan untuk tetap kuat di dalam segala kelemahannya, tetap tegar melewati semua rintangan hidupnya dan tetap tersenyum di balik isak tangisnya. Tidak ada seorangpun yang boleh atau berhak untuk menyuruh orang lain agar berhenti untuk berharap, karena setiap orang berhak untuk membayangkan dan mendapatkan apa yang terbaik menurutnya. Setiap orang berhak untuk hidup di dalam harapannya dan kemudian menghidupi harapannya itu agar tidak hanya menjadi harapan kosong. Setiap orang berhak untuk menikmati kehidupannya dan merasakan harapannya. Setiap orang berhak untuk bertahan pada harapannya yang hidup dan kemudian membuat harapan orang lain menjadi hidup.


          Itulah daya “hipnotis” dari harapan, The Power of Hope yang membuat kita bertahan di tengah kondisi yang paling sulit. Kekuatan yang membuat kita tetap mendongakkan kepala sambil tersenyum ketika semua hal yang kita miliki di dunia ini sudah menghilang dari genggaman kita. Kekuatan untuk menegakkan bahu saat tubuh terlalu lelah untuk menghadapi berbagai cobaan. Kekuatan untuk maju dan berusaha memperbaiki kehidupan kita yang sekarang. Dan kekuatan untuk terus melanjutkan hidup meski dengan presentase kemungkinan yang sangat kecil. Tetapi ingatlah, sekecil apapun harapan yang kita miliki, akan sangat berpengaruh terhadap pola pikir dan tindakan kita ke depannya. Sama seperti halnya api, sekecil apapun api itu, akan sanggup membakar sebuah bangunan besar. Sekecil apapun harapan yang kita miliki, ia tetap bagaikan setitik air hujan yang membasahi bumi setelah bumi tersebut dilanda kekeringan yang berkepanjangan. Harapan itu bagaikan air yang memberikan kehidupan baru kepada semua isi bumi, karena air tersebut membawa perubahan di bumi yang sangat gersang. Gersang setahun akan digantikan hujan sehari, hujan yang mendatangkan air yang sangat sejuk. Air yang sanggup menyuburkan tanah dan menimbulkan tunas-tunas baru. Air yang sanggup merangsang pertumbuhan pohon-pohon yang sejuk dan indah serta berguna bagi banyak makhluk di bumi. Air yang sanggup mencerahkan kembali kehidupan yang hampir punah dan sanggup menghidupi bumi yang hampir mati.


           Kita pun demikian, sebagai Umat Kristiani kita pasti memiliki harapan, dan harapan kita hanya kepada Yesus Kristus Sang Jurus’lamat. Saat kita menghadapi banyak persoalan di dalam kehidupan kita, dan kita hanya bisa menangis karena tidak sanggup menghadapinya, ingatlah bahwa kita memiliki Yesus yang Maha Dahsyat. Hanya Yesus yang sanggup menguatkan kita, memberikan harapan yang baru, dan membuat kita bangkit kembali dari keterjatuhan kita. Dalam 1 Korintus 13 : 13 dikatakan bahwa “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih”. Meskipun kasih dikatakan sebagai “yang paling besar”, namun harapan tetaplah menjadi hal yang penting di antara iman dan kasih. Iman artinya “percaya”, harapan artinya “bergantung”, dan kasih artinya “bertindak”. Jadi ketika kita percaya kepada Yesus, artinya kita juga bergantung kepada Yesus, dan kita berbuat kasih kepada sesama manusia berdasarkan iman serta pengharapan kita kepada Yesus.


          Harapan adalah penggerak kehidupan. Tidak ada kehidupan jika tidak ada harapan, karena harapan adalah faktor pendorong bagi seseorang untuk bertahan hidup. Sama seperti hubungan antara manusia dan Tuhan. Tidak ada kehidupan jika tidak ada harapan, tidak akan ada manusia jika tidak ada Tuhan. Karena harapan adalah faktor pendorong bagi seseorang untuk bertahan hidup, hanya Tuhan lah yang menjadi sumber kehidupan yang mendorong manusia agar tetap hidup dan berharap pada-Nya. Harapan artinya bergantung kepada sumber penghidupan agar kita bisa bertahan hidup, dan harapan manusia untuk hidup bergantung kepada Yesus Kristus sebagai sumber kehidupan. Harapan manusia bukan digantungkan kepada mereka sesama manusia, karena manusia sering mengecewakan sesamanya, dan tidak jarang manusia tersebut mengecewakan dirinya sendiri. Harapan yang manusia gantungkan kepada sesamanya tidak akan memberikan kehidupan karena hanya mengandalkan kekuatannya sendiri, yakni kekuatan manusia yang sangat terbatas jika tidak dikuatkan oleh Tuhan. Seperti yang tertulis dalam Yeremia 17 : 5 – 8 :
5. Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!
6. Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk.
7. Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!
8. Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.


           Pada ayat 8 disebutkan bahwa orang yang percaya kepada Tuhan bagaikan pohon di tepi air yang tidak kuatir dalam tahun kering dan tidak berhenti menghasilkan buah. Artinya, orang yang percaya kepada Tuhan tidak akan khawatir meskipun sedang “kekeringan”, tidak akan khawatir meski “diterjang badai”, tidak akan khawatir saat dilanda banyak masalah besar. Karena sesungguhnya manusia memiliki Tuhan yang jauh lebih besar dari pada masalahnya, dan manusia menaruh harapan kepada Tuhan yang jauh lebih besar dari pada perkaranya. Orang yang percaya kepada Tuhan akan senantiasa bergantung kepada Tuhan di segala kondisi, baik “subur” atau “kering”, bagaikan Ranting Anggur yang bergantungan dengan Pokok Anggur. Dan karena manusia tetap bergantung kepada Tuhan (Tuhan ada di dalam dia, dan dia ada di dalam Tuhan), maka manusia itu tetap “berbuah” meskipun saat kondisi “kering”. Manusia tetap menghasilkan Buah-buah Roh yang menjadi buah persekutuannya dengan Tuhan, dimana Tuhan ada di dalam dia, dan dia pun hidup di dalam Tuhan.


           Barangsiapa yang menaruh harapan kepada Tuhan tidak akan hidup sia-sia, karena hanya Tuhan Sang Pencipta yang sungguh-sungguh mengenal kita makhluk yang diciptakan-Nya. Tuhan mengenal diri kita 100%, lebih jauh dan lebih dalam Tuhan mengenal kita dari pada kita mengenal diri kita sendiri. Bahkan sebelum kita lahir ke dunia ini pun Tuhan sudah terlebih dahulu mengenal dan memilih kita. Jadi untuk apa kita meragukan kuasa dan kasih-Nya yang penuh dengan harapan ? Untuk apa kita berharap pada diri sendiri ataupun orang lain, jika Tuhan sudah menjadi pengharapan yang utama ? Untuk apa kita putus asa dan kehilangan harapan karena dihadang berbagai masalah jika kita memiliki Tuhan yang jauh lebih besar dari masalah kita ?


Hanya Tuhan sumber pengharapan ketika semua hal di dunia ini terasa begitu kejam.
Hanya Tuhan sumber kekuatan ketika semua hal di dunia ini terasa begitu menekan.
Hanya Tuhan sumber kesembuhan ketika semua hal di dunia ini terasa begitu menyakitkan.
Hanya Tuhan sumber perlindungan ketika semua hal di dunia ini terasa begitu menakutkan.
Hanya Tuhan sumber penghiburan ketika semua hal yang kita miliki di dunia ini menghilang.
Hanya Tuhan sumber pegangan ketika semua hal di dunia ini tidak dapat dipercaya.
Hanya Tuhan pengharapan yang hidup yang sanggup menghidupi kita.
The power of hope from our God makes you strong and wise.
Just put your hope in Christ and you will not be disappointed.


Semoga bermanfaat. Tuhan Yesus memberkati.

Minggu, 15 Desember 2013

Perumpamaan Tentang Hidup

          Hidup itu seperti piano atau pianika, ada keyboard berwarna putih sebagai nada normal dan ada keyboard berwarna hitam sebagai nada kromatis (naik setengah dari F menjadi F kruis, F ke F# jika dibaca menjadi Fa ke Fis). Tetapi jika keyboard yang putih dan hitam itu dimainkan sedemikian rupa, sehingga membentuk nada-nada yang harmonis maka akan menghasilkan melody yang sangat indah. Demikian juga hidup kita yang memiliki suka cita dan duka cita yang datang secara bergantian. Itu membuat hidup kita tidak monoton, hanya bahagia saja atau penuh dengan penderitaan saja. Kita akan mendengarkan lagu suka cita dari kehidupan kita yang naik dan turun. Terkadang kebahagiaan digeser oleh penderitaan, terkadang penderitaan digantikan oleh kebahagiaan sehingga kita sanggup bernyanyi kembali di tengah kebahagiaan kita.


          Hidup itu seperti pelangi yang terdiri dari beraneka warna yang berbeda. Tetapi jika disatukan, akan membentuk sebuah paduan warna yang indah luar biasa. Mejikuhibiniu (merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu). Tujuh warna dalam satu kesatuan. Banyak warna yang kita rasakan di dalam kehidupan kita. Ada rasa kecewa, bersyukur, bosan, bahagia, bersemangat, lelah, senang, panik, tenang, dan masih banyak lagi. Tetapi jika disatukan, semuanya akan indah. Karena kita tidak hanya terpaku dengan satu atau dua warna saja, tetapi merasakan banyak warna. Kita tidak hanya merasakan kebosanan yang membuat kita semakin bosan, tetapi ada banyak hal yang patut kita syukuri, baik ataupun buruk. Pelangi pun muncul setelah datangnya hujan. Pada awalnya cuaca memang cerah, tetapi kemudian berkabung dan turun hujan, lalu setelahnya pelangi akan muncul ketika awan menggeser dirinya untuk mempersilahkan matahari agar kembali menyinari bumi. Sehabis hujan akan tampak pelangi, selalu ada suka cita setelah duka cita berakhir.


          Hidup itu seperti Sandi Rumput yang memiliki garis naik dan garis turun dengan melekuk patah tanpa ada lengkungan halus. Ada garis panjang dan ada garis pendek. Terkadang kita tiba-tiba terjatuh ketika sedang berada di posisi atas, ada saja cobaan yang menjatuhkan kita ketika kita sedang berjaya. Keterjatuhan dari garis panjang atau garis pendek, keduanya sama-sama menyakitkan. Dan ketika kita terjatuh, kita juga sulit untuk mendaki garis yang curam itu, kembali naik ke titik atas, entah di garis panjang ataupun di garis pendek. Tetapi, di balik garisnya yang curam, susunan garis panjang dan garis pendek dari Sandi Rumput tersebut memiliki arti, yakni huruf-huruf yang bisa disusun menjadi kata-kata dan kalimat. Sandi Rumput bisa mengkomunikasikan sesuatu dari garis panjang dan garis pendek itu. Demikian juga keterjatuhan kita dan pencapaian yang kita raih, juga mengkomunikasikan bahwa kita telah belajar mengenai perjuangan untuk tetap bertahan hidup.


          Hidup itu seperti garis pada EKG (Elektro Kardio Grafi / Electro Kardio Gramm) yang memiliki garis naik dan garis turun untuk mendeteksi detak jantung. Ada garis panjang dan ada garis pendek, ada garis yang menjulang ke atas dari garis horizontal dan ada garis yang jatuh di bawah garis horizontal. Garis-garis tersebut menunjukkan bahwa jantung kita masih berdetak, terlepas dari kondisi jiwa kita yang sedang sadar ataupun koma. Dan bila garis itu melintang datar secara horizontal, itu artinya kita sudah merenggang nyawa. Seperti itulah hidup kita yang naik atau turun, garis naik sebagai simbol keberhasilan atau kesenangan hidup itu melintang bergantian dengan garis turun sebagai simbol kegagalan dan penderitaan hidup. Namun yang pasti, ketika garis-garis tersebut melintang bergantian, itu tandanya jantung kita masih berdetak dan kita masih bisa bernafas. Jika garis itu melintang datar seperti hidup kita yang datar dan tidak merasakan apapun, itu artinya kita telah tiada.


          Hidup itu seperti sebuah film. Banyak cerita yang tertutur, banyak tokoh yang bermain, banyak latar yang digunakan dan banyak tantangan yang harus dihadapi. Seperti itulah kehidupan ini, banyak orang yang Tuhan berikan ke dalam kehidupan kita, setiap orang yang kita temui adalah Guru Kehidupan bagi kita. Kita belajar mengenai banyak hal kepada orang-orang tersebut dan mereka pun demikian. Kita akan mengalami pembentukan karakter dari orang-orang tersebut, kita juga akan mendapatkan banyak pengalaman dan tantangan dari jalan cerita serta latar yang kita lalui semasa hidup ini. Seperti menonton sebuah film, di akhir film kita akan tahu bagaimana ending-nya. Sama seperti hidup ini, kita jalani saja dahulu, maka di akhir kehidupan kita akan tahu bagaimana ending-nya nanti. Tetapi yang jelas, film yang berhasil di-release tandanya adalah film yang baik, entah di dalamnya ada konflik dan kejahatan yang muncul atau murni mengenai kebaikan. Sama seperti hidup kita, kadang hal pahit yang kita rasakan, kadang hal manis yang kita kecap. Sepahit apapun atau semanis apapun kejadian yang kita alami, hidup kita tetaplah baik dan indah. Karena dengan adanya kehidupan, kita bisa merasakan segala sesuatu, mempelajari hal-hal baru, dan memetik berbagai nilai kehidupan.


          Hidup itu seperti air. Seperti air yang menyegarkan tanah kering dan menumbuhkan tunas baru, seperti itulah kita seharusnya. Menjadi motivator bagi orang lain, membawa suka cita bagi orang lain dan mendatangkan berkat setelah diberkati. Seperti air yang menyesuaikan diri di berbagai wadah, seperti itulah kita harus berusaha menyesuaikan diri di berbagai lingkungan dan kondisi. Seperti air yang mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, seperti itulah harusnya diri kita, ikut merendah jika orang lain juga merendah. Tidak meninggikan diri ketika orang lain berada di bawah, tidak semakin menaikkan dagu ketika orang lain menyombongkan apa yang mereka miliki.


          Hidup itu seperti kincir angin yang berputar dan menghasilkan listrik. Demikian juga kita di dalam kehidupan ini, terus berputar dari bawah ke atas kemudian kembali ke bawah dan naik ke atas lagi sampai memberikan sebuah hasil. Di dalam kehidupan, kita dibentuk oleh berbagai peristiwa, baik atau buruk. Dengan kegagalan dan hal-hal buruk, kita belajar untuk bersikap lapang dada, sabar, kuat, tangguh dan tidak mudah menyerah. Kita juga belajar untuk senantiasa bersyukur dan bersukacita dalam segala hal, belajar untuk bertekun di dalam doa dan tetap berpengharapan. Dengan keberhasilan dan hal-hal baik, kita belajar untuk bersyukur dan bersukacita atas apa yang telah kita dapatkan, menjadi berkat setelah mendapatkan berkat, berbagi kasih terhadap sesama, dan mengajak orang lain turut serta bersukacita di dalam suka cita yang kita alami. Setelah mengalami pembentukan di dalam kehidupan ini, kita memberikan hasil kepada orang lain, kita menjadi manusia yang baru, menjadi manusia yang berkembang dan semakin maju, menjadi manusia yang selalu bekerja keras dan mendatangkan hasil yang maksimal.


          Hidup itu seperti sebuah lilin yang berkorban membakar dirinya sampai habis tak tersisa untuk menciptakan terang. Meskipun api yang dihasilkannya tidak sebesar obor dan tidak sehangat api unggun, namun cahaya kecil itu tetep menang dalam mengalahkan kegelapan. Api kecil itu tetap memberikan cahaya dan kehangatan serta sanggup menyalakan lilin-lilin yang lainnya. Demikian juga di dalam hidup, kita mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, siap atau tidak siap, harus melakukan pengorbanan untuk orang lain, bahkan sampai harus mengorbankan kepentingan diri kita sendiri. Dan di dalam hidup, kita juga harus menularkan semangat positif, menghangatkan jiwa-jiwa yang rapuh, serta berbagi kasih kepada orang lain seperti lilin yang menyalakan lilin-lilin lainnya. Sekecil apapun api lilin yang menyala, akan sanggup mengalahkan kegelapan. Sekecil apapun kebaikan yang kita perbuat, akan sanggup mengubah dunia dan menunjukkan kepada dunia bahwa kita sanggup menjadi Terang Dunia.


          Hidup itu seperti melompati batu kecil dan batu besar. Setiap jenjang kehidupan memiliki tingkat kesulitannya masing-masing. Jadi ketika kita berhasil, sesungguhnya kita belum sepenuhnya berhasil, karena akan ada hambatan lain yang sedang menunggu di depan kita, hambatan yang jauh lebih besar bila dibandingkan dengan hambatan yang pernah kita lewati sebelumnya. Hambatan itu menunggu kita, ia menunggu kita melompatinya agar kita meraih keberhasilan yang lainnya, keberhasilan yang lebih besar bila dibandingkan dengan keberhasilan yang sebelumnya. Demikian seterusnya sampai di suatu detik, jantung kita tidak lagi berdetak seiringan dengan detak jam.


          Hidup itu seperti sebuah buku. Sejak kita lahir ke dunia ini, Buku Kehidupan kita masih putih bersih. Halaman pertama baru saja dibuka untuk diisi dan dihias sedemikian rupa. Setiap kejadian yang kita alami di dalam kehidupan ini akan dituliskan ke dalam Buku Kehidupan tersebut. Setiap Buku Kehidupan masing-masing dari kita adalah berbeda, tergantung bagaimana kita menuliskannya dengan rapih dan menghiasnya dengan indah. Setiap kita memiliki tugas dan tanggung jawab yang berbeda di dalam kehidupan ini, setiap kita memiliki jalan kehidupan masing-masing, setiap kita memiliki karakter dan sikap yang berbeda dalam menentukan hidup. Ada yang bertanggungjawab terhadap hidupnya dan ada yang melupakan hidupnya, ada yang menghargai hidupnya dan ada yang membuat hidupnya menjadi sia-sia, ada yang mencintai hidupnya dan ada yang membenci hidupnya. Ketika seorang manusia menghembuskan nafas terakhirnya, ia menutup Buku Kehidupannya dan pergi jauh dari dunia ini. Ia tidak bisa lagi merasakan kehidupan yang beraneka warna dan beraneka rasa. Maka ketika kamu hidup, hiduplah di dalam kehidupanmu dan buatlah kehidupan orang lain menjadi lebih hidup hingga saatnya Tuhan berkata “Waktunya pulang”.


Semoga bermanfaat. Tuhan Yesus memberkati.

Sabtu, 14 Desember 2013

Talenta Pelayanan

          Sekitar tahun 2010 saya mengikuti  Ibadah PHP (Persiapan Hati Pelayan) di universitas tempat saya menuntut ilmu. Memang, sejak resmi terdaftar sebagai Mahasiswi di Universitas Kristen Indonesia, saya langsung didaftarkan menjadi AKK (Anak Kelompok Kecil) dan mengikuti kegiatan KK (Kelompok Kecil) yang dipimpin oleh PKK (Pemimpin Kelompok Kecil). Pada akhir Masa PPMB atau biasa dikenal dengan sebutan OSPEK, kami para MaBa diwajibkan untuk mengikuti KKR MaBa (Kebaktian Kebangkitan Rohani untuk Mahasiswa Baru). Karena mahasiswa-mahasiswi di Universitas Kristen ini tidak hanya dibimbing secara intelejensi saja tetapi juga secara spiritual, tidak hanya diasah kemampuan akademisnya saja tetapi juga semakin dibentuk dan dikuatkan dalam iman dan kepercayaan kepada Kristus. Karena berlatarbelakang Iman Kristiani, maka Universitas yang terletak di Cawang ini juga memberikan Pendidikan secara Kristiani, termasuk melaksanakan berbagai Ibadah secara terklasifikasi dan teratur.


          Setelah mengikuti KKR, para Pengurus PM (Persekutuan Mahasiswa) mengarahkan kami para MaBa untuk masuk ke dalam KK. Satu orang PKK membimbing 4-5 orang AKK dan jadwal kegiatan KK disesuaikan antara PKK dan AKK. Di dalam KK, PKK dan AKK bersama-sama melakukan PA (Pendalaman Alkitab) dengan menggunakan Buku Panduan, bernyanyi dan berdoa bersama, serta saling sharing mengenai HPDA (Hubungan Pribadi Dengan Allah) dan HPDS (Hubungan Pribadi Dengan Sesama). AKK dibimbing agar semakin beriman kepada Kristus dan dilibatkan untuk menjadi Pelayan Kristus. AKK dilibatkan untuk menjadi Pelayan di KST (Kebaktian Seluruh Tingkat) yang dilakukan seminggu sekali di setiap Fakultas yang melibatkan seluruh angkatan di dalam satu Fakultas, PAF (Persekutuan Antar Fakultas) yang dilakukan setiap sebulan sekali di lingkungan Universitas yang melibatkan seluruh Fakultas, atau bahkan P5W (Persekutuan 5 Wilayah) yang dilakukan sebulan sekali yang melibatkan 5 Wilayah (Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Utara, Jakarta Barat, dan Jakarta Pusat).


          Setiap AKK juga dibimbing untuk menjadi PKK yang akan memuridkan setelah dimuridkan, menjadi berkat setelah diberkati. Demikian juga saya yang saat itu dilibatkan menjadi AKK kemudian ditunjuk untuk menjadi PKK. Sesungguhnya saya memiliki keinginan untuk menjadi PKK. Ingin membimbing Junior dalam membangun HPDA dan HPDS-nya, ingin memberikan solusi atas sharing mengenai permasalahan hidup mereka, ingin menambah relasi dan mengembangkan diri. Namun karena Ibu saya sakit dan harus dirawat di rumah serta beberapa hari di Rumah Sakit, maka saya sebagai anak wanita terakhir yang dapat dipercaya, harus merawat Ibu saya. Saat itu Kakak saya yang sudah menikah dan tinggal bersama keluarga barunya pun juga mengekang saya untuk melayani di luar. Ia pernah berkata, “Melayani gak cuma jadi PKK aja, gak cuma jadi Naposo di gereja aja, tapi di segala hal lo bisa melayani, termasuk ngurus Orang Tua lo yang cuma satu-satunya. Lo itu cewek, se-cuek-cuek-nya cewek, pasti lebih telaten dari pada cowok, di rumah kan tinggal lo cewek satu-satunya”. Maka keinginan saya untuk melayani sebagai PKK pun terpaksa dikubur dalam-dalam karena kondisi yang tidak memungkinkan.


          Di sisi lain, saya memprediksi bahwa menjadi PKK haruslah memulai KK pada sore hari, biasanya sekitar pukul 17.00 WIB semua jam kuliah untuk Kelas Reguler berakhir. Maka bisa saja KK dimulai sejak jam 5 sore sampai jam 8 malam. Belum lagi Rapat Pengurus yang biasanya akan dilaksanakan pada sore menjelang malam karena pagi hingga siang pasti ada kegiatan kuliah. Saat ingin melayani di Naposo HKBP Pasar Minggu, saya pun terlibat dengan hambatan yang sama. Kelompok Muda-Mudi tersebut mayoritas merupakan pekerja kantoran yang Office Hour, yang artinya tidak ada jam bebas sejak pagi sampai petang. Anggota Naposo lainnya merupakan mahasiswa-mahasiswi yang mengambil Kelas Reguler dengan jam kuliah sejak pagi sampai sore. Maka mereka hanya memiliki waktu sejak jam 7 malam sampai jam 12 malam.


          Saya memang pernah aktif di Naposo sejak September 2010 hingga April 2011, setelahnya saya vacuum total dan menjadi Panitia Paskah pada Mei 2013. Saat itu saya pernah melayani menjadi Panitia Paskah tahun 2011 dan 2013, serta menjadi Anggota Koor di Natal 2010. Karena jam pelayanan yang malam (rapat, latihan koor dan mengurusi peminjaman peralatan), maka Ibu saya khawatir akan kondisi saya, takut diculik, diperkosa, lalu dibunuh karena status saya yang masih perawan. Memang rawan ketika seorang wanita sering pulang malam. Tetapi jika jam tetapnya seperti itu, maka saya tidak bisa mengubah Jam Operasional mereka, saya yang harus mengikuti alur Jam Malam mereka, sehingga imajinasi buruk Ibu saya semakin merajalela dan menyebabkan beliau dirawat di Rumah Sakit karena kadar gulanya naik. Memang sulit, tapi itulah kondisi yang saya hadapi, tidak memungkinkan untuk melayani di luar, tidak memungkinkan untuk bebas berkembang di dunia luar, selalu terkungkung di rumah sehingga sudah seperti Ibu Rumah Tangga Sejati meskipun saya belum menikah.


          Sekitar tahun 2010, saat saya mengikuti  Ibadah PHP (Persiapan Hati Pelayan) untuk menjadi PKK, saya mendengarkan Sharing Iman dari salah satu Pemimpin Kelompok Kecil. Kalau saya tidak salah ingat, wanita yang berinisial S itu sedang menjabat sebagai Koordinator PM pada saat itu. Beliau adalah PKK dari PKK kami, karena Motto KK ialah “Murid yang Memuridkan”, maka para PKK kami yang merupakan senior di kampus kami pada 2 tahun yang lalu juga pernah menjadi AKK sebelum menjadi PKK bagi saya dan teman-teman seangkatan saya. Pada saat Ibadah PHP, Kakak yang berinisial S tersebut berkata demikian,

“Setiap manusia diberikan Talenta oleh Tuhan. Ada yang pandai bermain musik, ada yang pandai berbicara, ada yang pandai menulis, ada yang pandai membaca sajak, atau apapun. Di dalam Alkitab pun tertulis bahwa talenta yang ada pada kita, harus kita kembangkan sedemikian rupa agar kita menjadi berkat bagi orang lain. Kita menjadi berkat untuk orang lain karena Allah telah terlebih dahulu memberkati kita. Talenta yang kita punya merupakan alat bagi kita untuk melayani Tuhan. Talenta Pelayanan tersebut berasal dari Tuhan, oleh Tuhan dan untuk Tuhan. Apa maknanya ? Talenta yang kita miliki berasal dari Tuhan, talenta tersebut diberikan oleh Tuhan secara cuma-cuma. Dalam melayani pun, Tuhan selalu menyertai kita, oleh Tangan Tuhan kita bekerja, bukan hanya dengan tangan kita. Dan pelayanan kita pun diberikan untuk kemuliaan nama Tuhan, bukan untuk kemuliaan bagi diri kita sendiri”.


          Memang benar apa yang dikatakan oleh Kakak S tersebut. Talenta Pelayanan yang kita lakukan berasal dari Tuhan, oleh Tuhan dan untuk Tuhan. Tuhan memberikan talenta bagi kita bukan dengan sembarang, tapi juga memiliki tujuan tertentu. Beberapa di antara kita memang ditunjuk Tuhan untuk menjadi Pendeta, maka Tuhan mengaruniakan kemampuan berbicara yang baik agar Khotbah yang disampaikan benar-benar dapat diterima dengan baik oleh Jemaat. Beberapa dari kita ada yang ditunjuk oleh Tuhan untuk menjadi pemusik di gereja, maka Tuhan mengaruniakan kemampuan bermusik yang baik agar Jemaat semakin semangat dalam menaikkan sembah dan pujian kepada Allah Tritunggal. Beberapa di antara kita ditunjuk oleh Tuhan untuk menjadi WL (Worship Leader / Pemimpin Pujian) atau anggota koor, maka Tuhan mengaruniakan suara merdu untuk dapat memuliakan Tuhan. Beberapa di antara kita juga diberikan talenta memimpin yang baik, sehingga kita sanggup mengkoordinir sejumlah orang untuk bersama-sama bergerak menjadi Super Team dalam menyukseskan Acara Natal atau Acara Paskah demi kemuliaan nama Tuhan.


          Dalam melaksanakan berbagai pelayanan tersebut, tentunya kita selalu diberkati Tuhan. Kita disanggupkan dan dikuatkan oleh Tuhan untuk melakukan berbagai pelayanan di sana sini. Mungkin kita sudah lelah dalam bekerja dan kuliah sejak pagi hingga sore, dari Senin sampai Jumat, tetapi Tuhan memampukan kita untuk tetap melayani pada malam hari serta pada hari Sabtu dan Minggu. Tuhan senantiasa memberikan kesehatan dan hikmat dalam bertindak di dalam pelayanan kita masing-masing. Tuhan selalu menguatkan kita yang lemah, lelah atau putus asa dalam pelayanan. Para Pekabar Injil yang memberitakan Injil di berbagai daerah pedalaman serta daerah yang rawan akan Ilmu Hitam pasti merasa takut dan khawatir akan kegagalan yang menimpanya. Tetapi karena penyertaan dan kekuatan dari Tuhan, para Pekabar Injil tersebut tetap memberitakan Kabar Suka Cita meski harus Mati Martyr. Dan jika Tangan Tuhan tidak menyertai pelayanan kita, maka kita tidak akan sanggup untuk melayani Dia dengan hanya mengandalkan kekuatan kita.


          Saya pernah mengalami hal tersebut saat ikut serta dalam Panitia Paskah pada Mei 2013. Sekitar pukul 11 malam kami baru selesai latihan drama, tetapi saya tidak mungkin pulang lebih awal karena harus mengurusi kostum drama, saya harus memasukkan kembali ke plastik-plastik sesuai dengan klasifikasinya. Rasa lelah dan kantuk yang teramat sangat menghantui saya. Saat itu malam terakhir bagi kami sebelum Hari H, dan seluruh Panitia serta Pemain Drama yang hadir melakukan Doa Bersama untuk acara esok pagi. Setelah berdoa dan bernyanyi, “Jangan Lelah”, saya pun menjadi semangat kembali. Saya merapihkan kostum bersama dengan panitia yang lainnya lalu pulang ke rumah.


          Berbagai pelayanan yang kita lakukan tersebut adalah untuk Tuhan, bukan untuk manusia atau bahkan Dewa-Dewa yang lainnya. Pada awalnya saya tidak mengenal prinsip “pelayanan”. Bagi saya, ketika saya ditunjuk untuk menjadi Panitia Natal di gereja atau anggota koor atau kolektan di Ibadah KST maupun di ibadah gereja, saya hanya menjalankannya dengan begitu saya, seolah menjalankan kewajiban untuk manusia tanpa menghayati apa yang saya lakukan untuk Tuhan. Saya merasa bahwa saya sedang membantu manusia karena mereka meminta saya untuk melakukan ini dan itu tanpa berfikiran bahwa yang saya lakukan merupakan persembahan yang hidup untuk Tuhan. Tetapi pada akhirnya saya menyadari bahwa hidup yang Tuhan berikan haruslah dikembalikan kepada Tuhan seperti yang tertulis dalam Roma 12 : 1 (Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati). Dengan demikian, Talenta Pelayanan yang diberikan oleh Tuhan haruslah juga dikembalikan kepada Tuhan seperti yang tertulis di dalam Matius 25 : 14-30. Apa yang kita lakukan di dunia ini (termasuk semua pelayanan kita) adalah untuk kemuliaan nama Tuhan, bukan untuk menunjukkan eksistensi diri kita atau bahkan untuk memegahkan diri kita. Karena tubuh dan jiwa yang kita hidupi sekarang berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Sama seperti Talenta Pelayanan yang ada pada diri kita, berasal dari Tuhan dan dikembalikan untuk memuliakan nama Tuhan.


          Inilah yang saya lakukan pada blog “Goresan Tinta Kehidupan” milik saya. Mungkin hobby membaca buku cerita saat SD dan membaca novel saat SMP hingga sekarang, sangat berpengaruh pada kemampuan verbal saya, saya menjadi lancar dalam menulis terutama dalam bentuk narasi. Sempat terfikirkan oleh saya bagaimana jika saya menjadi Penulis Novel saja ? Tetapi butuh waktu beberapa tahun untuk menciptakan sebuah novel dan menerbitkannya, tetapi butuh waktu 3 jam untuk menghasilkan sebuah Artikel Rohani yang siap dipublikasikan di blog saya sehingga semakin banyak oraang yang terberkati melalui tulisan saya ini. Talenta inilah yang bisa saya kembalikan kepada Tuhan di tengah kondisi keluarga yang mengekang saya untuk melayani di dunia luar. Tuhan telah memberikan talenta untuk menulis kepada saya, dan saya pun dimampukan Tuhan untuk menulis berbagai Artikel Rohani, sehingga hasil tulisan saya pun saya persembahkan untuk kemuliaan nama Tuhan.


          Jika ada pembaca blog saya yang mengalami perubahan positif setelah membaca artikel saya, maka saya menyatakan bahwa Tangan Tuhan sedang bekerja pada diri Anda para pembaca blog saya. Di sini saya hanya menjadi Alat Tuhan, bukan kemampuan diri saya yang mengubah Anda para pembaca, tetapi Tuhan yang mengubah Anda melalui tulisan saya. Karena perubahan karakter seseorang bukan dilihat dari orang atau hal yang mengubahnya, tetapi karena Tangan Tuhan sedang bekerja di dalam diri Anda. Artikel Rohani dalam blog ini bukan untuk upaya Kristenisasi, melainkan untuk membagikan berkat karena saya sudah terlebih dahulu diberkati oleh Allah. Saya yakin bahwa para pembaca blog saya juga sudah banyak mendapat berkat dari orang lain, dan akan membagikan berkat kepada orang lain juga.


          Apapun talenta pelayanan yang Anda miliki dan seberapa kecilpun pelayanan yang Anda lakukan tidak menjadi masalah. Tetapi yang terpenting ialah, seberapa besarkah keinginan Anda untuk melayani Dia yang sudah memberikan banyak hal selama Anda hidup ? Seberapa besarkah keinginan Anda untuk mengembangkan talenta yang Anda miliki agar Anda persembahkan untuk Dia yang memberikannya secara cuma-cuma ? Karena percuma saja jika Anda melakukan pelayanan yang besar tetapi kemudian Anda memegahkan diri sendiri atas keberhasilan dari pelayanan Anda. Karena di dalam pelayanan, yang patut untuk dimuliakan hanyalah Allah, bukan manusia. Dan jangan sekalipun manusia mencuri kemuliaan Tuhan karena Talenta Pelayanan berasal dari Tuhan, oleh Tuhan dan untuk Tuhan.


Semoga bermanfaat. Tuhan Yesus memberkati.

Minggu, 15 September 2013

Jalan-Ku Bukanlah Jalanmu, Rancangan-Ku Bukanlah Rancanganmu

          Sejak SMA saya sudah memiliki pemikiran yang aneh. Pemikiran yang sebenarnya tidak penting untuk dipikirkan karena tidak mendatangkan keuntungan material bagi saya. Pemikiran liar yang sebenarnya tidak usah dipedulikan karena tidak langsung membuat masa depan saya menjadi lebih baik. Pemikiran aneh yang bisa membuat saya menjadi semakin bingung dengan kondisi yang saya hadapi. Pemikiran yang sebenarnya bisa dijawab dengan singkat dan tepat karena sudah tersurat dalam Alkitab.

          Pemikiran aneh yang saya miliki ini berawal saat saya melihat teman saya (siapapun dia, teman yang baik ataupun teman yang buruk), kemudian saya seolah terjatuh ke dalam Ruang Masa Lalu yang membuat saya bertanya-tanya dalam hati, “Eh, ini temen gue loh, waktu itu kita kenalannya kayak gimana ya ? Kenapa gue bisa kenalan sama dia ya ? Lagian, kenapa juga mesti dia yang kenalan dan temenan sama gue ? Kayak gak ada orang laen deh. Penduduk Indonesia ada jutaan loh, kenapa mesti dia ?”. Saya memang tidak membenci teman saya tersebut, bahkan saya bersyukur ketika mengenal dia karena saya mendapatkan teman baru yang mengisi hari-hari saya, saya mendapat pengalaman baru dengan adanya kehadiran dia di kehidupan saya, saya mengalami perubahan positif dan memiliki ketetapan hati untuk menjadi anak baik-baik. Tetapi tetap saja saya bertanya-tanya, “Kenapa gue mesti temenan sama dia ?”.

          Pertanyaan berikutnya yang muncul ialah “Kenapa juga gue dilahirin di Suku Batak dengan segala adat-adatnya yang ribet banget ? Kenapa gak dilahirin di Suku Jawa atau Suku Ambon atau Suku Padang ? Kenapa juga gue lahir di keluarga gue yang sekarang dengan kondisi ekonominya berada di posisi menengah ke bawah ? Kenapa gak dilahirin jadi anak orang kaya raya atau anak presiden ? Atau kayak keluarganya Richie Rich itu, seru banget pastinya. Kenapa juga gue punya orang tua yang seperti itu dengan Abang dan Kakak yang kayak gitu ?”. Kenapa dan kenapa, itulah pertanyaan yang dahulu sempat terbersit di dalam pikiran saya, seolah saya tidak puas dengan kondisi dan lingkungan yang saya tempati saat itu. Tapi jujur, saya bersyukur dengan segala kondisi yang saya alami, baik saat muncul pertanyaan itu sejak saya SMA atau bahkan sampai sekarang. Saya sangat bersyukur ketika mendapati fakta bahwa saya dilahirkan di keluarga saya yang sekarang ini, dengan kondisi anggota keluarga yang seperti itu, dan mengalami seluruh kejadian suka dan duka sejak dahulu sampai sekarang. Tetapi dahulu saya sempat bertanya, “Kenapa mesti kayak gini dan gak kayak gitu ? Kenapa mesti dia dan kenapa mesti mereka ?”. Mungkin khayalan saya terlalu jauh untuk memikirkan hal itu.

          Lalu saya teringat dengan seseorang yang pernah berkata, “Kalau kita mengingat masa lalu, dan kemudian kita menelaah hingga ke masa sekarang, kita seolah sedang menonton televisi. Ya, kita sedang menonton drama kehidupan milik kita sendiri. Sejak kita lahir, kemudian tumbuh dewasa, hingga sekarang kita berada dalam kondisi seperti ini, baik atau buruk, kemudian di masa depan kita memiliki kehidupan yang lain, kita merasa bahwa itu adalah sebuah sinetron di televisi. Dan kalian tahu siapa Sutradaranya ? Yesus Kristus yang telah menetapkan kehidupan kita pada masa lalu, masa kini, dan masa depan. Kita adalah artis-artis di sinetron yang Tuhan kreasikan, dan artis haruslah selalu mengikuti perintah atau instruksi dari Sang Sutradara agar film yang tercipta menjadi film yang luar biasa indah.”. Saya pun berpikir bahwa itu adalah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan saya semasa SMA. Tuhan, Sang Sutradara kehidupan, telah mengatur seluruh kehidupan manusia, mulai dari A sampai Z, mulai dari hal-hal yang terbesar sampai hal-hal yang terkecil bahkan sampai pada hal-hal yang tidak sanggup dipikirkan atau diprediksi oleh manusia. Tuhan sudah mengatur semuanya dan manusia hanya tinggal menjalankan instruksi dari Sang Sutradara.

          Dalam Kitab Yesaya 55 : 8 – 9 tertulis “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.”. Ya, Tuhan punya maksud dan tujuan tertentu mengapa saya dilahirkan di keluarga saya yang sekarang. Tuhan juga punya rencana mengapa saya harus berkenalan dan berteman dengan mereka-mereka yang pernah masuk ke dalam kehidupan saya. Tuhan juga punya rencana mengapa saya pernah mengalami kegagalan tertentu dan terpuruk karena mengalami cobaan yang berat. Tuhan juga punya rencana mengapa saya harus berhasil dalam hal tertentu dan gagal dalam hal yang lainnya.

          Tuhan sudah menetapkan semuanya sesuai dengan jalan-Nya dan rangcangan-Nya, jadi manusia tidak berhak untuk mengatur Tuhan. Bahkan sebelum lahir pun saya tidak berhak untuk meminta kepada Tuhan bahwa saya ingin ditempatkan di keluarga yang kaya raya, dilahirkan di Amerika dan berteman dengan mereka-mereka yang termasuk dalam golongan anak gaul. Yang menjadi permasalahan selanjutnya ialah, apakah keinginan saya tersebut baik untuk saya ? Apakah saya sanggup untuk ditempatkan di lingkungan yang seperti itu ? Apakah keinginan saya tersebut bisa membuat saya menjadi pribadi yang lebih baik dari sekarang ? Karena sesungguhnya apa yang saya inginkan belum tentu menjadi kebutuhan saya, dan Tuhan jauh lebih mengerti segala kemampuan atau kebutuhan saya (1 Korintus 2 : 9), bahkan Tuhan telah mengenal saya sebelum saya dibentuk di dalam rahim ibu saya (Yeremia 1 : 5) dan Tuhan mengenal saya jauh lebih dalam dibandingkan saya mengenal diri saya sendiri (Mazmur 139 : 1 – 18) karena Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya (2 Timotius 2 : 19).

          Tuhan sudah merencanakan semuanya, seperti yang tertulis dalam Kitab Yeremia 29 : 11, yaiu “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”. Jadi, dengan ditempatkannya saya di dalam lingkungan saya yang sekarang, sesungguhnya itulah rencana Tuhan yang sedang saya jalani. Saya sebagai manusia hanya bisa menjalankan Skenario Kehidupan dari Sang Sutradara yang memiliki rancangan indah, karena Sang Sutradara telah mengenal saya jauh lebih dalam dan mengetahui apa yang terbaik untuk saya. Dengan demikian saya tidak berhak untuk memilih atau mengganti Skenario Kehidupan dengan rasa sok tahu atau sok bisa, karena Sang Sutradara sesungguhnya lebih hebat dari manusia manapun.

Semoga bermanfaat. Tuhan Yesus memberkati.

Minggu, 08 September 2013

Sweet Life Like A Baby (part 1)

          Semua manusia pernah menjadi seorang bayi sebelum ia tumbuh menjadi orang dewasa, itulah pertumbuhan manusia secara normal. Seperti yang kita ketahui, bayi memiliki kecenderungan untuk menangis dalam menghadapi apapun. Baik ketika ia sedang lapar dan haus, sesudah membuang air besar ataupun kecil, ketika ia sedang merasa gerah atau ingin tidur. Menangis adalah salah satu cara dia berkomunikasi dengan orang di sekitarnya. Tangisan adalah tanda bahwa ia sedang mengalami kondisi yang tidak nyaman, dan memanggil orang dewasa untuk membuatnya merasa nyaman kembali. Dia sangat ketergantungan kepada orang-orang di sekitarnya. Bayi adalah sosok yang lemah dan seolah tidak berdaya bila tidak ditopang oleh orang dewasa.

          Kita pun seperti demikian. Tanpa kita sadari, kita hanyalah bayi yang lemah dan tak berdaya, meskipun kita sudah menginjak umur 17 tahun ke atas. Tetapi sadarkah kita bahwa kita adalah manusia yang rapuh dan lemah ? Banyak di antara kita yang ketika mengalami masalah sepele, langsung menangis seperti bayi karena tidak kuat menahan tekanan. Mayoritas dari kita pun merasa tak sanggup bila menghadapi ribuan masalah, lalu kepribadian kita yang kelihatannya kokoh menjadi rapuh ketika terpuruk dalam menghadapi masalah besar. Tidak sedikit pula dari antara kita yang hidupnya hanya bisa bergantung kepada orang lain, selayaknya bayi yang tidak bisa berbuat banyak demi kelangsungan hidupnya. Meskipun banyak di antara kita yang memiliki kepribadian arogan (tetap tegak berdiri meski sering “diterpa badai”), atau beberapa di antara kita merasa kuat dalam menghadapi permasalahan hidup (atau lebih tepatnya “berpura-pura kuat”), dan mayoritas dari kita merasa sanggup menjalani kehidupan dengan berdiri di atas kaki sendiri (tanpa meminta bantuan orang lain, apa lagi Tuhan), tetapi hakikat manusia adalah lemah.

          Pada dasarnya, manusia adalah makhluk yang lemah dan rapuh, karena manusia memiliki banyak keterbatasan meskipun dikenal sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna karena memiliki akal, budi, dan nurani. Seperti yang tertulis di dalam Alkitab, manusia terbuat dari debu tanah. Dibentuk sedemikian rupa oleh Allah dan dihembuskan nafas kehidupan sehingga manusia itu bisa hidup (seperti yang tercantum dalam Kejadian 2:7, “Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup”). Dan juga seperti puisi yang pernah saya tulis (dapat dibaca di http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150700570718611 / http://www.windysitinjak.blogspot.com/2013/05/aku-dan-dia-senin-16-april-2012.html), manusia hanyalah debu tanah yang mudah tertiup oleh semilir angin kecil. Itu menandakan bahwa manusia tidak memiliki kekutan apapun jika dibandingkan dengan penciptanya.

          Seiring dengan bertambahnya usia, manusia memiliki kekuatan, meskipun terbatas. Kekuatan ini diberikan oleh Tuhan agar manusia sanggup untuk berdikari (berdiri di atas kaki sendiri), untuk melanjutkan kehidupan dan mengelola isi bumi. Yang menjadi permasalahannya ialah, ketika seorang manusia merasa sanggup dalam melakukan suatu hal dan terbukti berhasil dengan apa yang dilakukannya, ia langsung memegahkan diri. Manusia sering mengandalkan kekuatannya sendiri dan merasa sanggup untuk menjalani kehidupannya tanpa Tuhan yang menyertai. Manusia merasa dirinya hebat dan cenderung bersandar kepada pengertiannya sendiri, merasa bahwa Tuhan bukanlah pribadi yang benar-benar hadir dan tidak bisa melakukan apapun untuk menyejahterakan manusia. Merasa bahwa semua yang dicapai oleh manusia hanyalah karena hasil jerih payah manusia itu sendiri, sehingga “dada yang membusung” dan “kepala yang membesar” tidak dapat terelakkan lagi. Hal itu bertentangan dengan ajaran Tuhan dalam Alkitab (Amsal 3:5 “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri”).

          Manusia sering melupakan Tuhan dan segala Anugerah yang telah Dia berikan kepadanya. Manusia sering merasa dirinya kuat, bahkan melebihi kekuatan Tuhan, namun tidak menyadari bahwa ketika manusia itu tersandung batu kecil saja, ia sudah mengeluh dan menangis seperti seorang bayi. Manusia tidak sadar bahwa ketika ia kuat maka ia melupakan kehadiran Tuhan, tetapi saat ia dilanda permasalahan hidup maka ia menangis kepada Tuhan, memanggil Tuhan seperti seorang bayi yang menangis memanggil orang dewasa agar membuatnya kembali menjadi nyaman. Manusia tidak menyadari akan kekuatannya yang terbatas, sehingga sedikit saja ia tergoncang maka kehidupannya juga terpuruk.

          Untuk itulah kita harus kembali menjadi seorang bayi. Bayi yang lemah dan tak berdaya bila tidak ditopang oleh orang dewasa, yaitu Allah. Kita harus kembali pada prinsip Kristosentris, dimana seluruh kehidupan kita berpusat pada Kristus. Apapun yang kita lakukan adalah untuk kemuliaan Allah, bukan untuk kemuliaan diri kita sendiri. Apapun yang kita terima adalah pemberian dari Allah, bukan hanya karena usaha kita. Hal apapun yang kita sanggup lakukan adalah kekuatan yang berasal dari Allah, bukan karena kuat dan gagah kita.

          Kini hanya pelukan Allah yang membuat kita nyaman, sama seperti dulu, sewaktu bayi kita merasa nyaman saat dipeluk oleh Ayah dan Ibu kita. Kini hanya senyuman Allah yang sanggup membuat kita tersenyum, sama seperti dulu, sewaktu bayi kita ikut tersenyum ketika kita melihat Ayah dan Ibu kita tersenyum. Kini hanya genggaman tangan Allah yang selalu aman melindungi kita, sama seperti dulu, sewaktu bayi tangan kita selalu dipegang oleh Ayah dan Ibu kita saat kita berjalan, sehingga kita tidak terjatuh.

          Dalam kembali menjadi bayi, saya tidak menyarankan agar kita berkelakuan seperti seorang bayi yang sering menangis untuk berkomunikasi dengan orang-orang di sekitar, manja dan selalu ingin dilayani oleh orang dewasa, serta ketergantungan oleh orang lain. Karena Tuhan pun sudah menganugerahkan kekuatan fisik dan psikis agar kita mampu berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) setelah kita beranjak dewasa. Namun, arti dari kembali menjadi bayi ialah, meskipun kita sudah mampu berdikari tetapi kita harus tetap ingat kepada Tuhan. Kembali menjadi bayi artinya, kita harus seperti bayi yang ketergantungan kepada Tuhan, yakni terus hidup di dalam Tuhan dan melakukan prinsip Kristosentris, bukan berpangku tangan dan hanya menunggu mujizat Tuhan yang turun, seolah menunggu hujan uang dari langit. Karena sesungguhnya, hidup di dalam Tuhan sangatlah indah, sweet life like a baby.


Semoga bermanfaat. Tuhan Yesus memberkati.

Kamis, 08 Agustus 2013

Lebaran Bukanlah Tradisi, Tapi Pembaharuan Diri

          Setiap tahunnya Umat Muslim sedunia merayakan Hari Raya Iedul Fitri atau yang biasa disebut dengan Lebaran, puncak perayaan dari Bulan Ramadhan yaitu bulan yang patut disyukuri kedatangannya. Lebaran adalah Hari Kemenangan yang menunjukkan bahwa selama satu bulan penuh Umat Muslim telah berhasil dalam mengendalikan segala hawa nafsu duniawinya, menjadi pemenang dalam pertarungan melawan diri sendiri, mengalahkan semua gangguan yang datang ke dalam kehidupannya dan membuktikan bahwa imannya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rasulullah tidak goyah.

          Bulan Ramadhan atau biasa yang disebut Bulan Puasa adalah Bulan Suci dimana Umat Muslim melawan banyak hawa nafsu duniawi. Mulai dari hawa nafsu terhadap makanan, minuman, rokok, rasa marah, keinginan untuk membicarakan keburukan orang lain, berfikiran porno dan melakukan perbuatan yang maksiat, mengucapkan kata-kata kotor dan kasar, sampai melawan rasa malas untuk melakukan kegiatan karena jam tidur yang tertanggu saat subuh untuk Sahur serta melawan rasa kantuk yang berlebihan karena perut yang kosong selama kurang lebih 14 jam non-stop (pukul 04.00 - 18.00 WIB). Selama Bulan Suci Ramadhan, satu bulan penuh Umat Muslim berusaha hidup suci dengan menyaring segala yang dilihat, didengar, dicium, dan dirasa oleh keseluruh panca indera, menahan hawa nafsu dan gangguan dari dalam maupun dari luar diri sendiri, berbuat amal yang mendatangkan banyak pahala, serta yang terpenting ialah semakin mendekatkan diri dengan Sang Pencipta.

          Semua Umat Muslim sangat bergembira dalam menyambut Lebaran. Hampir semua penduduk di Ibu Kota merencanakan pulang ke kampung halaman sejak jauh-jauh hari, mengumpulkan uang untuk mudik (“mulih” ke “udik yang berarti “pulang” ke “kampung”), menabung untuk membeli buah tangan dan baju baru untuk diberikan kepada sanak saudara di kampung maupun untuk dipakai pada Hari Kemenangan, serta membuat sebuah perayaan khusus dengan tradisi yang berbeda di setiap keluarga.

          Namun yang harus kita sadari ialah, Lebaran bukanlah tradisi semata. Bukan hanya kebiasaan makan Ketupat Sayur dan Opor Ayam bersama seluruh keluarga. Bukan hanya momen untuk berkumpul bersama seluruh keluarga besar yang datang dari berbagai pulau dan benua. Bukan hanya Hari Istimewa yang bergelimangan hidangan spesial dan pakaian yang tidak kalah spesial. Bukan hanya momen untuk bersalaman dengan orang sebanyak-banyaknya serta meraup banyak Uang Lebaran dari orang yang lebih tua. Bukan hanya kebiasaan untuk berkunjung ke rumah tetangga dalam rangka silaturahmi dan mengisi perut hingga penuh dengan hidangan yang telah disediakan. Bukan hanya sekedar pertunjukan kembang api, petasan dan suara takbir yang bersahut-sahutan dengan sangat meriah di Malam Takbiran. Tapi Lebaran adalah Shalat Ied berjamaah dengan khusyuk, mengampuni diri sendiri dan mengampuni mereka yang telah menyakiti hati kita, meminta maaf dengan segala kerendahan hati kepada semua orang yang pernah kita sakiti, serta bertekad untuk memulai hidup yang baru yaitu hidup yang lebih baik dalam iman dan perbuatan.

          Lebaran bukanlah saatnya bagi kita untuk menyembunyikan semua dendam di dalam riuh tawa bahagia bersama sanak saudara dan tetangga. Namun setelah momen Lebaran usai, riuh tawa bahagia itupun lenyap, kembali berganti dengan amarah dan kebencian. Bulan Suci Ramadhan bukanlah saatnya bagi kita untuk mencari pahala sebanyak-banyaknya dengan perbuatan baik dan menjaga hawa nafsu duniawi. Namun setelah Hari Kemenangan itu berakhir, segala perbuatan maksiat pun kembali kita lakukan dan tidak pernah peduli untuk beramal sholeh. Lebaran bukanlah saatnya bagi kita untuk menyombongkan segala hal yang kita miliki (mulai dari pakaian, perhiasan, tas, sepatu, uang, rumah, kendaraan, pasangan hidup, anak, prestasi keluarga, perbuatan amal terhadap orang banyak, serta kenangan yang membanggakan). Tapi menjadi hari penting bagi kita untuk mensyukuri segala hal yang kita miliki dan membagikan sebagian dari harta yang kita miliki kepada mereka yang membutuhkan. Lebaran bukanlah saatnya bagi kita untuk berfoya-foya mengeluarkan seluruh harta yang kita miliki untuk menggelar acara yang sangat spesial dan berkelas, tetapi saatnya bagi kita untuk beribadah semakin khusyuk kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rasulullah meski dalam segala keterbatasan.

          Hari Lebaran adalah hari dimana kita melebarkan pintu maaf yang sebesar-besarnya. Bukan hanya mengampuni kesalahan orang lain namun masih mengingat perbuatan mereka yang telah menganiaya kita, mengingat pedihnya luka yang telah mereka goreskan di hati dan jiwa kita. Tetapi kita harus sungguh-sungguh memaafkan mereka dengan seikhlas-ikhlasnya dan sungguh-sungguh melupakan perbuatan mereka yang telah menganiaya kita. Hari Lebaran juga hari dimana kita menunduk serendah-rendahnya untuk meminta maaf. Menyesali kekhilafan yang pernah kita lakukan secara sengaja maupun tidak sengaja. Bukan hanya meminta maaf karena terpaksa atau demi mendapatkan sebuah kebanggaan karena telah meminta maaf terlebih dahulu, tetapi karena adanya kesadaran diri sendiri.

          Di hari yang Fitri, mari kita kembali suci. Mengampuni dan diampuni dengan segala kerendahan hati serta bertekad untuk memperbaharui diri demi kehidupan yang lebih baik. Karena Lebaran bukanlah tradisi, tetapi pembaharuan diri. Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1434 Hijriah, minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.

Sabtu, 13 Juli 2013

Sepaket Bumbu Iman Kristiani Untuk Pribadi Yang Berbeda

          Minggu, 30 Juni 2013, saudara-saudara saya datang berkunjung ke rumah saya. Mereka adalah adik dari Ibu saya (yang saya panggil dengan sebutan “Inang Uda”) beserta dua orang anak-anaknya yang sudah berkeluarga (yang saya panggil dengan sebutan “Kakak” dan “Abang”. Bila dilihat dari usia, mereka jauh lebih tua dari pada saya, maka dari itu saya memanggil mereka dengan sebutan “Kakak” dan “Abang”. Meskipun secara adat, saya adalah kakak dari mereka, karena Ibu saya adalah kakak dari Ibu mereka). Tidak lupa mereka juga membawa serta anak-anak mereka yang masih kecil, sehingga rumah saya semakin ramai saja.

          Mereka membawa lauk untuk dimakan, dan kami sebagai tuan rumah juga menyediakan lauk untuk makan siang bersama. Setelah merasakan masakan yang dibuat oleh si Kakak, Ibu saya pun merasakan ada yang berbeda dengan rasanya. Mereka membawa Arsik Ikan Mas dan Ayam Gotta. Hingga keesokan harinya, Ibu saya masih penasaran dengan bumbu yang digunakan oleh si Kakak tersebut, karena itulah Ibu saya menyuruh saya untuk menanyakan apa saja bumbu yang digunakan oleh si Kakak saat memasak. Saya pun menelpon si Kakak untuk menanyakan hal tersebut dan saya pun terlibat dalam percakapan yang sangat panjang.

“Ya bumbunya Arsik itu Dek, bawang merah, bawang putih, kemiri, cabai merah, laos, serai, bawang batak, rias, kunyit, kacang panjang. Lah emang selama ini kau masak pake apa aja ?”, jelas si Kakak.

“Yeee,,, Sama kali Kak, aku juga pake bumbu itu. Ya tapi kan beda tangan yang mengolah pasti beda rasa. Karena yang namanya takaran bumbu tiap orang itu pasti beda-beda. Misalnya untuk dua kilo ikan mas, Kakak pake 12 butir bawang, tapi aku cuma 9 butir, misalnya loh. Naahh,, Cara masaknya gimana ? Pasti beda”, jawabku.

          Sampai pada topik “cara memasak”, obrolan kami pun semakin awet. Dari hasil pembicaraan antara saya dengan si Kakak pun, saya dapat menyimpulkan bahwa sepaket Bumbu Masakan yang sama akan menghasilkan rasa masakan yang berbeda bila diolah dengan cara yang berbeda dan oleh orang yang berbeda.

          Dari kejadian itu pun saya berpikir, Bumbu Masakan itu sama seperti Bumbu Iman Kristiani. Hanya satu paket bumbu, tapi bisa menghasilkan rasa yang berbeda karena diolah dengan cara yang berbeda dan oleh orang yang berbeda. Sepaket Bumbu Iman Kristiani yang tercantum di dalam Alkitab seperti Buah-Buah Roh (Galatia 5 : 22 – 23), Kesepuluh Perintah Allah (Keluaran 20 : 1 – 17; Ulangan 5 : 6 – 21), Hukum Kasih (Ulangan 6 : 5; Matius 22 : 37 – 39; Lukas 10 : 27; Markus 12 : 29 – 31; 1 Korintus 13 : 4 – 8; Lukas 6 : 27 – 38; Matius 5 : 43 – 44; ); Garam Dunia dan Terang Dunia (Matius 5 : 13 – 16), Mengandalkan Tuhan (Amsal 3 : 5; 1 Petrus 5 : 7; Yeremia 17 : 5 – 8; Matius 6 : 33) merupakan satu ajaran dari satu Allah Tritunggal yang sama, yaitu Allah Bapa atau Bapa di Surga sebagai pencipta, Allah Anak atau Yesus Kristus sebagai Sang Penebus, dan Allah Roh atau Roh Kudus sebagai penjaga dan pelindung serta pengingat).

          Tetapi meskipun kita mendapatkan sepaket Bumbu Iman Kristiani yang sama dari gereja kita, namun kita semua belum tentu bisa berhasil menjadi umat Kristen yang sejati. Umat Kristen yang menjadi garam dan terang dunia, umat Kristen yang mengandalkan kekuatan Tuhan dalam segala hal, umat Kristen yang menjalankan kesepuluh Perintah Allah dan kesembilan Buah-Buah Roh serta kedua Hukum Kasih, serta umat Kristen yang benar-benar mengerahkan seluruh kekuatannya dalam melayani Allah dengan sepenuh hati dan sepenuh jiwa.

          Memang pada dasarnya tidak ada manusia yang sempurna. Dalam hal ini, tidak ada manusia yang sanggup mengabdikan sepanjang hidupnya (dari lahir hingga meninggal) kepada Allah Tritunggal. Sangatlah sulit untuk menjadi orang yang suci, karena dosa itu sangatlah nikmat dan sayang bila dilewatkan begitu saja. Wajar bila demikian adanya, karena inilah tantangan kita dalam hidup di dalam Kristus. Karena itulah saya mengumpamakan bahwa “Sepaket Bumbu Masakan akan menghasilkan rasa masakan yang berbeda bila diolah dengan cara yang berbeda dan oleh orang yang berbeda”, atau dengan kata lain “Sepaket Bumbu Iman Kristiani bisa menghasilkan Pribadi Yang Berbeda karena diolah dengan cara yang berbeda dan oleh orang yang berbeda”.

Apa makna perumpamaan tersebut ?

          Semua Umat Kristiani di dunia memiliki ajaran yang sama. Meskipun Umat Kristen di dunia terbagi menjadi beberapa ajaran dan terbagi lagi menjadi banyak aliran gereja, tetapi secara general mereka menggunakan Alkitab yang sama dan menyembah Allah yang sama. Kecuali beberapa ajaran yang benar-benar dinyatakan sesat dan menggunakan Kitab yang lain sebagai acuan dari kehidupan imannya. Jangankan pembagian aliran gereja dalam Umat Protestan (yang katanya bisa menimbulkan pemahaman yang berbeda mengenai ajaran Kristiani), Umat Protestan dan Umat Katolik saja memiliki ajaran yang sama, yaitu beriman kepada Allah, menyembah Yesus Kristus Sang Penebus dan mengasihi sesama manusia. Sepaket Bumbu Iman Kristiani hanya datang dari satu Allah yang sama, dan digunakan untuk beriman kepada satu Allah yang sama pula.

          Bumbu Iman Kristiani memang sepaket dan datang dari satu Allah. Namun dalam prakteknya, seluruh Umat Kristen belum tentu memiliki kesamaan sifat dan sikap dalam menyembah Allah, ini tergantung dari “cara pengolahan iman” yang mereka lakukan. Ada yang masih menjadi Kristen TOMAT (Kristen yang hari Minggu TObat, tetapi hari Senin sampai Sabtu kuMAT, selalu berbuat dosa bahkan melakukan dosa yang sama), ada yang masih menjadi Kristen KTP (Kristen yang hanya di KTP miliknya saja tertera bahwa dia adalah orang Kristen, tetapi sikap dan perilakunya tidak mencerminkan diri sebagai pengikut Kristus), ada yang masih menjadi Kristen Kapal Selam (Kristen yang muncul di gereja hanya pada hari-hari besar Kristiani saja seperti Natal, Tahun Baru, dan Paskah, tetapi hari Minggu biasa tidak pernah datang ke gereja untuk beribadah. Karena kapal selam memiliki sifat yang kadang-kadang timbul ke permukaan air, tetapi lebih sering tenggelam dan menghilang di dalam air), ada yang masih menjadi Kristen Rutinitas (Kristen yang rajin beribadah di gereja hanya sebagai rutinitas yang harus dijalankan tanpa ada hati yang mau menyembah dengan tulus. Akhirnya, rajin ke gereja tetapi rajin pula berbuat dosa), dan masih banyak lagi sebutan bagi umat Kristen yang tidak benar-benar beriman kepada Allah.

          Memang kita tidak boleh menghakimi bahwa orang yang jarang ke gereja untuk beribadah itu pasti karakternya buruk, tidak benar-benar beriman kepada Allah karena kadar imannya rendah. Tetapi belum tentu juga. Mungkin dia memiliki banyak halangan untuk ke gereja tetapi selalu Saat Teduh di rumah atau bahkan selalu mendengarkan khotbah di radio dan televisi atau bahkan pergi beribadah di gereja lain. Bisa saja, ada banyak kemungkinan. Tetapi biasanya, orang yang benar-benar mengarahkan hati dan pikirannya kepada Allah pasti akan rajin beribadah di gereja, rajin berdoa dan Saat Teduh di rumah, rajin membaca renungan iman dan buku-buku rohani, rajin mendengarkan lagu-lagu rohani, rajin menolong orang lain, serta bijaksana dalam berbicara dan bertindak. HPDA (Hubungan Pribadi Dengan Allah) dan HPDS (Hubungan Pribadi Dengan Sesama) dari orang tersebut akan tertata rapi, meskipun tidak setiap hari ia tampil sempurna sebagai Pengikut Kristus, pasti ada saja dosa yang telah dia lakukan.

          Rajin mendengarkan khotbah di gereja maupun di televisi ataupun radio, rajin membaca renungan iman Kristiani dan buku-buku Kristiani, rajin mendengarkan lagu-lagu rohani, rajin berdoa dan Saat Teduh, adalah termasuk “cara pengolahan iman” yang telah kita lakukan. Sadar ataupun tidak, kegemaran dan kebiasaan kita untuk membaca buku-buku Kristiani dan renungan iman Kristiani atau mendengarkan khotbah dan lagu-lagu rohani sudah membentuk iman kita. Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus (Roma 10 : 17).

          Tidak hanya itu saja, dalam menjalani kehidupan pun, iman kita juga diolah dan dibentuk. Kita belajar sabar dalam menghadapi segala kondisi yang baik dan buruk, selalu mengucap syukur meski kondisi sangat terpuruk, mengendalikan diri untuk tidak berbuat dosa, mencoba memahami kehendak Allah yang terjadi dalam kehidupan kita, serta masih banyak lagi ujian dan cobaan yang membuat kita semakin beriman kepada Allah. Beberapa “cara pengolahan iman” tersebut akan membentuk kita menjadi Pribadi Yang Berbeda, yaitu pribadi yang tidak hanya mengenal Allah lebih dalam tetapi juga mencintai Allah dengan sepenuh hati dan jiwa.

          Pribadi Yang Berbeda juga akan terbentuk bila “diolah oleh orang yang berbeda”. Yang harus kita ketahui bahwa sifat dan sikap masing-masing dari kita tidak hanya dibentuk oleh lingkungan tempat kita tinggal, tetapi juga tergantung dari diri kita sendiri. Mungkin kita dilahirkan di dalam sebuah keluarga yang baik secara moral, tetapi di lingkungan pergaulan kita menemukan mereka yang lebih banyak menyesatkan dari pada membawa pengaruh positif. Pilihan terakhir ada di tangan kita, apakah kita ingin ikut tersesat ataukah kita tetap menjadi orang yang baik.

          Semua tergantung dari diri kita sendiri, bagaimana kita menerima dan menyerap rangsangan dari orang sekitar, bagaimana kita bereaksi dan bertindak terhadap orang sekitar, bagaimana kita mengendalikan diri kita sendiri, dan bagaimana usaha kita untuk tetap konsisten dengan jalan hidup kita yang telah kita pilih. Jika kita dihadapkan oleh kondisi yang sangat sulit seperti himpitan ekonomi ditambah dengan konflik keluarga yang tak berujung serta dipadupadankan dengan keputusan PHK dari kantor, maka pilihan ada di tangan kita. Apakah kita akan emosi berkepanjangan dan kemudian putus asa sampai ajal menjemput, atau bahkan tetap bersyukur dan bersukacita untuk kemudian bangkit kembali karena Allah pasti menyiapkan rencana yang indah untuk kita (Yesaya 55 : 8 – 9; Yeremia 29 : 11). Karena hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang (Amsal 17 : 22). Dan Allah juga menghendaki kita umat Kristiani agar senantiasa bersukacita, tetap berdoa, dan mengucap syukur dalam segala hal (1 Tesalonika 5 : 16 – 18).

Semoga bermanfaat. Tuhan Yesus memberkati.