Tampilkan postingan dengan label Opiniku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opiniku. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Mei 2013

Dangdut is the Best, Yes or No ? (Kamis, 6 Desember 2012)

          Dangdut. Mayoritas orang memandang rendah dan merasa anti pada aliran musik ini. Dangdut dianggap sebagai ‘musik-nya orang kelas bawah’, yakni para supir angkot, kernet bus, kuli panggul di pasar, tukang becak, pedagang asongan, tukang sapu jalanan, pembantu rumah tangga, tukang kebun, Office Boy, Office Girl, dan pekerjaan kelas bawah lainnya. Musik Dangdut dianggap sebagai musiknya para orang pinggiran yang tidak tersentuh oleh peradaban. Banyak orang yang memandang bahwa Dangdut adalah musik yang kampungan, jelek, norak, tidak jelas, aneh, bahkan menjijikkan. Ada saja orang yang langsung melirik sinis sambil komat-kamit merepet karena mendengar alunan musik Dangdut.

          “Dangdut ??? Gak level kaleee,,, Please deh, kayak gak ada musik yang laen aja ! Kalo semua musik di dunia ini udah musnah dan cuma Dangdut yang tersisa, gak akan deh gue dengerin itu musik. Iiihh,, Anti banget gue sama itu musik ! Jauh-jauh deh dari kehidupan gue !”, mungkin inilah tanggapan banyak orang jika ada pertanyaan “Lo suka musik dangdut gak ?”. Ya, mungkin mayoritas orang akan tertawa terbahak-bahak, meremehkan seseorang jika mendengar seseorang tersebut berkata “I love Dangdut”.

          Entah karena terpengaruh efek modernisasi yang menggiring banyak orang agar mencintai (atau pura-pura mencintai) aliran musik luar negeri (seperti Jazz dan Rock & Roll) atau benar-benar menyukai kedua aliran musik tersebut, yang jelas banyak orang mendiskreditkan musik Dangdut. Dangdut is primitive, isn’t it ?

Tapi pernahkah kita memandang musik Dangdut dari sudut pandang yang berbeda ?

          Bagi saya, musik Dangdut adalah musik yang ramah. Percaya / tidak, aliran musik ini sanggup merobohkan dinding pembatas antara golongan atas dan golongan bawah. Hal ini saya lihat untuk yang pertama kalinya saat acara syukuran di kantor ayah saya sekitar tahun 2000, saat saya masih SD. Saat acara tersebut dimulai, para pejabat tingkat tinggi duduk rapih di bagian depan, sedangkan para karyawan dan keluarganya duduk di bagian belakang. Sangat terlihat kesenjangan sosial di dalamnya. Namun saat acara hiburan yang diisi oleh lagu Dangdut, para pejabat maupun karyawan bahkan office boy terlihat berjoget bersamaan, mencari pasangan masing-masing untuk berjoget membaur satu sama lain, tenggelam dalam irama gendang dan suling yang menyatu. Semua orang pun ikut “turun” membaur tanpa malu  untuk meliuk-liukkan tubuhnya.

           Hal yang serupa saya lihat pada bulan November 2012 di kampus. Saat saya merasa bosan menunggu teman-teman saya menuntaskan kelasnya, saya iseng-iseng menyanyikan sedikit lirik dari lagu Dangdut yang saya hafal. Seketika itu juga, salah satu Office Girl dan pembantu fakultas di kampus malah “pasang gaya” dan berjoget berpasangan. Sang Office Girl pun berjoget sambil tetap memegang sapu ijuk dan pengki di tangannya. Sang pembantu fakultas pun tetap meliuk-liukkan tubuhnya meski mulut saya tidak lagi menyanyikan lagu itu. Mereka berdua malah me-request, “Lanjutin donk lagunya, lagi asik goyang nih”. Saya hanya tertawa dan melanjutkan lirik yang saya potong tadi. Selanjutnya, kami berjoget bertiga, tidak ada kata malu karena “pasang gaya” di lobby yang disoroti puluhan pasang mata. Ya, saat itu tidak ada tembok pembatas antara mahasiswi dan Office Girl serta pembantu kampus. Semua membaur menjadi satu.

           Selain itu, percaya / tidak, musik Dangdut juga mampu melepaskan stress dan membakar kalori. Mungkin ini dampak dari irama gendang dan suling yang menyatu dengan sangat khas, sehingga mampu menghipnotis para pendengarnya agar ikut berjoget melepaskan tekanan hidup. Hal ini sudah saya amati sejak saya berkumpul untuk karaoke dengan teman-teman saya. Saat menyanyikan lagu pilihan sendiri, semua orang terkesan autis dan egois. Ketika saya hanya menyukai dan memilih lagu Pop yang mellowuntuk saya nyanyikan, di sisi lain teman saya ingin memasang lagu Rock yang upbeat. Ujung-ujungnya ketika saya menyanyikan lagu pilihan saya, hanya saya yang menyukainya, teman-teman saya yang lain belum tentu suka atau bahkan tidak mengenal lagunya, dan memilih untuk diam atau autis dengan telepon genggamnya, menunggu lagu pilihannya diputar untuk kemudian diyanyikannya dengan autis dan egois. Tetapi ketika saya menyanyikan lagu Dangdut, teman-teman saya yang tidak mengenal lagunya pun akan ikut berjoget karena hipnotis dari suara gendang dan suling yang menyatu. Semuanya menjadi “gila” saat berjoget, tertawa dan melepaskan stress. Tidak se-serius menyanyikan lagu kesukaan kami masing-masing. Goyang Dangdut itulah yang membakar kalori dari makanan dan minuman yang telah kami konsumsi sebelumnya.

          Musik adalah seni, dan tidak ada seni yang buruk. Musik adalah selera setiap orang yang bisa saja berbeda, tidak ada orang yang boleh melarang perbedaan minat tersebut. Tetapi, lihatlah sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Tidak semua yang dianggap buruk pada kenyataannya memang buruk. Di sini saya tidak berdiri sebagai Dangdut Lovers dan bukan sebagai Dangdut Haters, tetapi saya kagum dengan musik Dangdut yang bisa merobohkan jurang pemisah karena adanya perbedaan jabatan, kekayaan, kekuasaan, kepintaran, usia, agama, suku, ras, dan jenis kelamin. Dangdut is the Best, Yes or No ?

Semoga bermanfaat. Tuhan Yesus memberkati.




Notes :
Hasil copy paste dari Notes di Facebook "Windy Sitinjak" dengan judul "Dangdut is the Best, Yes or No ? (Kamis, 6 Desember 2012) oleh Windy Sitinjak (Catatan) pada 6 Desember 2012 pukul 20:53"

Film “Geng Sepeda Peace dan Kakek Dirman” (TVRI, pukul 10.30 – 11.30 WIB)


Minggu, 30 September 2012.

          Saya tidak menyaksikan kejadian awal film ini seperti apa. Tapi yang saya lihat di sana, banyak nilai-nilai moral dan perjuangan. Film ini mengisahkan Geng Sepeda Peace dan Kakek Dirman, serta masalah sosial yang biasa kita temui di dalam sebuah masyarakat.

          Awal cerita yang saya saksikan, di sebuah jalan raya, Geng Sepeda Peace bertemu dengan Kakek Dirman yang sedang memperbaiki sepedanya. Salah satu anak GSP tersebut memperkenalkan diri, diikuti oleh ketiga anak lainnya. Mereka juga memperkenalkan diri mereka sebagai sebuah geng. Namun Kakek Dirmannegative thinking, ia pikir bahwa mereka satu geng untuk tawuran. Seketika itu juga, salah satu dari anak GSP mengkonfirmasi bahwa mereka adalah anak Geng Sepeda Peace yang cinta kedamaian, si Kakek pun mengerti. Ya, keempat anak laki-laki yang berumur sekitar 7-12 tahun ini bukan penduduk asli Bali (tempatshooting film ini), tetapi mereka pendatang dari luar kota yang sedang bermukim di Bali.

          Anggota GSP bingung, mengapa di sepeda Kakek Dirman ditempeli ornamen kebangsaan Indonesia seperti lambang Burung Garuda Pancasila dan Bendera Merah Putih yang terdapat di bagian depan sepedanya, serta tulisan Bhinneka Tunggal Ika di bagian belakang sepedanya. Ternyata, sang Kakek adalah mantan pejuang kemerdekaan Indonesia. Pada zaman perang kemerdekaan, ia turut berperang di Surabaya (kota kelahirannya), tetapi ia juga ikut berperang di Bali. Kakek Dirman dulunya berjuang melawan penjajah, tetapi sekarang ia berjuang melawan lupa. Masyarakat Indonesia pada zaman sekarang sudah banyak yang lupa mengenai Burung Garuda Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, serta Bendera Merah Putih. Maka dari itu Kakek Dirman berkeliling Indonesia dengan menggunakan sepeda yang ditempeli ketiga ornamen tersebut untuk mengingatkan kepada masyarakat Indonesia tentang ketiga simbol negara Indonesia tersebut.

           Ketika GSP beserta Iin (adik dari salah satu anggota GSP) sedang berjalan-jalan, mereka bertemu dengan Kakek Dirman. Lalu Kakek Dirman mentraktir mereka makan Ayam Betutu khas Bali. GSP dan Iin memuji kenikmatan Ayam Betutu, lalu Kakek Dirman menjelaskan bahwa sesungguhnya negara Indonesia memiliki keragaman budaya yang sangat banyak. Indonesia yang merupakan negara kepulauan memiliki ribuan pulau yang dipisah oleh perairan. Karena itulah, Indonesia memiliki banyak suku budaya atau bahkan sub suku yang masing-masing sub kultur memiliki ciri khas tersendiri. Negara Indonesia memiliki banyak tarian daerah, pakaian daerah, acara adat yang menjadi tradisi setiap suku, alat musik daerah, dan makanan khas tiap daerah. Inilah salah satu dari banyak fakta positif mengenai Indonesia yang diangkat dalam film ini.

          Saat GSP dan Iin sedang berenang di pantai, mereka melihat seorang anak laki-laki sedang berlari ketakutan lalu bersembunyi di belakang kapal nelayan. Kemudian seorang Bapak yang setengah mabuk menghampiri mereka, menanyakan apakah mereka melihat Lar alias Larastu. Mereka menggeleng sesuai dengan perintah anak laki-laki yang tadi berlari sambil memberikan kode “tutup mulut” dengan meletakkan jari telunjuknya di bibirnya sambil sedikit memonyongkan bibirnya.

           Setelah Bapak itu pergi, anak laki-laki yang mengumpat di belakang kapal nelayan itu keluar dari tempat persembunyiannya dan bergabung dengan GSP. Mereka berkenalan dan berenang bersama. Anak yang bernama Lar itu bercerita bahwa setelah Ibunya meninggal, Ayahnya sering mabuk-mabukan dan tidak mempedulikan kondisi Lar beserta adiknya. Lalu Lar mengajak mereka berenang ajak menjauh dari tepi pantai. Tanpa sepengetahuan GSP dan Iin, Lar pun mencuri keempat sepeda milik GSP beserta sebuah sepeda milik Iin.

           Mau tidak mau, GSP berjalan pulang dengan berjalan kaki. Di dalam perjalanan, mereka bertemu dengan segerombolan anak yang sedang mengusung dua buah layangan Bebelan (layangan besar yang berbentuk ikan). Lalu mereka berkenalan dan bermain Bebelan bersama di pantai. “Untung saja sepeda kita hilang, jadi kita bisa bertemu mereka dan melihat Bebelan secara langsung, tidak hanya menyaksikan di televisi”, ucap salah seorang anggota GSP.

           Setelah itu mereka berkunjung ke sebuah rumah teman mereka. Anak laki-laki itu meminjamkan sepedanya kepada GSP dan Iin. Anak laki-laki itupun menghimpun ketiga temannya dalam meminjamkan sepeda mereka kepada GSP dan Iin agar mereka dapat pulang ke rumah mereka masing-masing. Meskipun sepeda yang dipinjamkan hanya 4 buah, tetapi GSP dan Iin bersyukur dan berterima kasih kepada mereka. Kehidupan masyarakat Indonesia yang ramah dan saling tolong menolong pun diangkat dalam film ini.

          Di tengah jalan pulang, GSP dan Iin melihat sebuah truk barang yang kecepatannya melebihi normal. Tidak beberapa lama kemudian, kelima anak ini melihat sebuah kecelakaan, ternyata Kakek Dirman yang tertabrak truk, lalu kemudian supir truk itu lari dengan truknya tanpa mempertanggungjawabkan perbuatannya itu.

            Dengan bantuan penduduk sekitar dan GSP beserta Iin, Kakek Dirman dibawa ke RSUD Kabupaten Bandung dan dirawat di sana. Ia mengalami cedera di bagian kepala dan kaki. Untuk sementara, Kakek Dirman tidak bisa berkeliling dengan sepedanya. Tetapi tiba-tiba Kakek Dirman terbangun dari tidurnya dan menanyakan kemana sepedanya beserta ornamen yang menempel pada sepedanya, apakah baik-baik saja atau sudah rusak. Lalu GSP dan Iin menceritakan bahwa sepeda Kakek Dirman sudah diamankan oleh pihak kepolisian dan Lambang Burung Garuda sudah disimpan rapih di lemari.

            Lalu Iin meminjam kamera ponsel ibunya dan memfoto Kakek Dirman yang sedang terkapar tak berdaya di RS. Pada malam harinya, Iin mem-publish foto Kakek Dirman beserta cerita perjuangannya melawan penjajah. Hal ini sejalan dengan pemikiran Abang dari Iin, sehingga ada seorang Ibu dan anak yang datang ke RSUD untuk menjenguk Sang Pahlawan tersebut karena melihat ulasan dan foto yang di publish oleh Iin di media sosial Facebook.

          Pagi harinya, salah satu anggota GSP melihat Lar sedang duduk meminta-minta di sebuah pasar tradisional. Setelah mencuri sepeda GSP dan Iin, Lar memang menghilang entah kemana. Namun sayang, kini Lar melarikan diri lagi setelah dipanggil oleh salah satu anggota GSP tersebut. Dia lari ketakutan karena tidak siap untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

           Pada kesempatan berikutnya, tiga orang anggota GSP secara tidak sengaja melihat Lar sedang berusaha untuk mencuri kaca spion sebuah motor di pasar tradisional. Kemudian Lar diteriaki oleh Penjaga Keamanan di pasar tradisional itu, lalu ia lari ketakutan. Ketiga anggota GSP pun mengejar Lar. Sampai pada akhirnya Lar tertangkap oleh ketiga anggota GSP. Lar pun membawa mereka bertiga ke sebuah rumah sakit, untuk menjenguk Suli, adik dari Lar. Itulah alasan utama Lar mencuri sepeda milik GSP dan Iin serta barang berharga lainnya. Suli dirawat di RSUD dan membutuhkan cuci darah. Semua biaya ditanggung oleh Lar, mulai dari biaya rawat inap, obat-obatan, sampai biaya cuci darah. Hal ini terjadi karena Bapak dari Lar tidak mempedulikan Lar dan Suli, ia hanya bisa mabuk-mabukan.

          Suli terbangun dari tidurnya lalu bercerita mengenai mimpinya kepada Lar. Suli bermimpi bertemu ibu mereka yang sudah lama meninggal. Di dalam mimpinya, Sang Ibu meminta Lar agar berhenti mencuri dan tidak boleh nakal lagi. Suli pun tidak perlu diurus oleh Lar lagi. Lalu pada detik itu juga, setelah Suli menceritakan isi mimpinya, Suli menghembuskan napas terakhirnya, ia menutup matanya untuk selama-lamanya.

          Beberapa hari setelah Suli meninggal, Lar duduk menyendiri di tepi pantai, hatinya masih sedih karena Suli telah tiada. GSP dan Iin datang untuk memberikan semangat kepada Lar. Kemudian Bapak dari Lar datang menghampiri mereka. Ia meminta maaf kepada Lar dan berjanji untuk tidak minum minuman beralkohol lagi, mengganti semua barang yang Lar curi, dan menyuruh Lar agar sekolah lagi, seperti GSP dan Iin yang masih berkewajiban untuk sekolah dan menuntut ilmu.

          Setelah beberapa minggu di rawat di RSUD, Kakek Dirman sembuh dan diperbolehkan untuk keluar dari RS. Setelah itu ia melanjutkan perjuangannya melawan lupa. Ia kembali bersepeda keliling Indonesia untuk mengingatkan masyarakat Indonesia tentang 3 simbol negara Indonesia yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia, yaitu Bendera Merah Putih, Burung Garuda Pancasila, dan Bhinneka Tunggal Ika.

          Itulah cerita dari film yang saya saksikan di TVRI. Jujur saja, saya memang tidak pernah menonton TVRI lagi karena gambar TVRI yang sering terganggu akibat buruknya sinyal pemancar, dan saya juga tidak memiliki waktu untuk menonton televisi. Jika ingin mencari berita, saya lebih suka mencari berita melalui internet, dimana kita tidak perlu menonton iklan yang memotong penyiaran berita, dan kita bisa memilih judul berita yang ingin kita baca. Jika saya ingin menonton acara hiburan, saya lebih suka menyaksikan acara OVJ dan Tahan Tawa di Trans7 dan di Trans TV.

          Saya memang bukan pecinta Sinetron dan FTV (meskipun saya pernah beberapa kali menonton FTV di SCTV dan menonton beberapa episode dari rangkaian episode Sinetron yang panjang), tetapi saya memang suka tayangan televisi yang bersifat cerita dan narasi seperti film (bukan Reality Show atau kuis). Maka dari itu setelah sedikit menyaksikan film GSP dan Kakek Dirman ini, saya langsung menetapkan channel televisi saya dan menyaksikan film ini sampai usai.

          Yang saya salut dengan TVRI adalah, stasiun televisi milik pemerintah Indonesia ini sangat concern dalam dunia pendidikan. Meskipun mayoritas televisi hanya menyajikan sinetron yang temanya tidak jauh dari percintaan, permusuhan, iri dengki, balas dendam, kehidupan glamour, imajinasi buruk, tapi TVRI tetap berjalan di dalam relnya. Mungkin banyak orang yang menganggap bahwa TVRI sudah ditutup atau tak terdengar lagi kiprahnya di dunia pertelevisian Indonesia, dan banyak orang lagi yang menganggap TVRI “antara ada dan tiada”, tapi saya SANGAT SALUT dengan TVRI yang terus memegang teguh nilai moral bangsa Indonesia. TVRI tetap berdiri untuk mensosialisasikan nilai moral, pendidikan, agama, perjuangan bangsa Indonesia di tengah pertumbuhan masyarakat yang sangat cepat dan dihimpit oleh berbagai nilai dan norma baru yang berasal dari luar Indonesia.

Semoga bermanfaat. Tuhan Yesus memberkati.



Notes :
Hasil copy paste dari Notes di Facebook "Windy Sitinjak" dengan judul "Film "Geng Sepeda Peace dan Kakek Dirman" (TVRI, Pukul 10.30 - 11.30 WIB) oleh Windy Sitinjak (Catatan) pada 30 September 2012 pukul 14:15"

Penyimpangan Perilaku karena Terpaksa (Rabu, 14 Maret 2012)


          Hari ini saya pulang kuliah pukul 14.30 WIB. Berbincang sejenak dengan teman kampus saya, kemudian pulang. Memang, saya bisa saja satu kali naik angkutan umum dari depan kampus hingga depan gang rumah saya. Tetapi saya terlalu malas untuk menunggu lama. Jujur saja, perasaan saya saat itu sedang tidak enak, penuh emosi dan merasa bosan. Entah mengapa akhir - akhir ini perasaan saya sedang tidak nyaman seperti itu. Dengan alasan "supaya cepat sampai di rumah", akhirnya saya memutuskan untuk dua kali naik angkot. Dari dekat kampus, saya naik M19, turun di Dewi Sartika, kemudian naik M16, turun di gang dekat rumah saya.

          Saat saya sedang mencari angkot M16, saya melihat 2 orang banci yang keluar - masuk pertokoan kecil di daerah Dewi Sartika. Selain mereka, ada seorang pria yang memegangi radio yang menyetel musik dangdut, ya pria itu adalah teman mereka. Dua orang banci itu bergoyang - goyang lincah, meliuk - liukkan tubuh kekarnya, bermain mata dengan pria yang mereka temui, bahkan tidak malu - malu untuk masuk ke dalam toko kemudian merangkul pria - pria tersebut. Dengan gaya mereka yang dibuat seolah - olah centil bagaikan wanita, hampir semua orang yang melihat mereka tertawa. Saya pun tersenyum sambil menggeleng - gelengkan kepala. Saya bersyukur bisa tersenyum kembali setelah melipat wajah di kampus tadi karena kondisi hati yang sedang tidak mood.

          Penampilan mereka cukup menghibur, meskipun terlihat menjijikkan. Kenapa mereka ingin menjadi orang lain ketika mereka dikaruniai sebuah tubuh yang 100 % milik mereka dan dapat mereka gunakan untuk hal - hal yang baik ? Mungkin sebagian orang merasa anti dengan mereka, atau memiliki pengalaman menyeramkan dengan mereka. Tapi bagi saya, hari ini mereka menghibur saya. Terdengar egois memang, tapi setidaknya bukan hanya saya yang terhibur, banyak orang yang melihat aksi mereka langsung tersenyum, bahkan ada yang langsung ikut menari bersama mereka. Menari untuk melepaskan penat atau bahkan melakukan pelecehan seksual dengan memegang / melihat dengan penuh "ke - nafsu - an" daerah terlarang pada tubuh mereka yang sebenarnya tidak membuat "nafsu". Tapi itulah resiko menjadi seorang banci, entah apalagi yang harus mereka tanggung dari "profesi" ilegal mereka ini. Yang saya tahu, ketika polisi datang, para penghuni Taman Lawang langsung mengambil langkah seribu / lari tunggang langgang, mungkin takut ditangkap dan dijebloskan ke Lapas. Atau setidaknya diikutsertakan dalam sebuah sosialisasi yang memakan waktu, padahal sebenarnya waktu yang berguna itu dapat mereka gunakan untuk mangkaldi Taman Lawang.

           Secara tidak langsung, "profesi" sebagai Banci Ngamen adalah "pekerjaan" yang mendatangkan banyak pahala meskipun melanggar kodrat sebagai pria seutuhnya. Karena "pekerjaan" ini menghibur orang - orang, seperti yang terjadi pada saya sore tadi. Entah saya salah / tidak, menertawakan mereka yang sebenarnya terpaksa berbuat demikian demi mencari uang. Tapi tingkah laku mereka memang lucu. Dengan tubuh yang kekar, mereka bergaya seperti wanita feminin. Seperti biasa, dengan busana yang "kurang bahan" di bagian atas dan di bagian bawah, mereka sengaja menampilkan bagian tubuhnya yang sebenarnya tidak memunculkan "nafsu", malah menimbulkan rasa mual di perut.

           Secara tidak langsung juga, orang - orang yang mengemban "profesi" ini juga dituntut untuk berpenampilan "wah" / eye catching, dengan make up yang cukup tebal, busana yang terlihat modis, rambut tambahan, bahkan menggunakan sepatu seksi. Penampilan ini membutuhkan biaya / pengeluaran, tidak seperti GePeng (Gelandangan dan Pengemis) yang menggunakan pakaian seadanya dan wajah yang tak terawat, bahkan sengaja menggunakan pakaian yang robek agar menimbulkan rasa iba bagi orang di sekitarnya.

          "Profesi" ini juga menuntut sifat profesional, karena para "pekerja" wajib menjadi orang lain, menyembunyikan identitas sebenarnya, berlaku / bergaya seperti orang lain. Layaknya seorang artis / aktor yang harus memerankan peran sebagai orang lain.

           Secara refleks, saya teringat dengan ucapan seorang Ibu yang sedang berbincang dengan sang supir di sebuah Mikrolet sekitar 2 hari yang lalu, sepertinya mereka memiliki hubungan intrapersonal sehingga setiap kata yang meluncur dari mulut mereka tidak mengalami proses penyaringan terlebih dahulu, sangat terkesan blak - blak - an.
"Di Jakarta sih, kalo gak mau nanggung malu, ya gak bisa makan. Saya aja jadi kenek gak masalah, yang penting kerja.", ucap si Ibu tomboy tersebut.

           Memang benar, seperti kasus Banci Ngamen ini, sesungguhnya mereka menanggung malu karena harus menjadi pribadi yang lain, bukan diri mereka sebenarnya. Memang ada saja yang menjadi banci karena pengaruh keluarga / lingkungan, mungkin ia tidak menemukan sosok pria yang bisa ditiru di dalam keluarganya dan cenderung lebih sering berinteraksi dengan wanita sehingga mereka menjalani kehidupan sebagai wanita (sesuai contoh yang tersedia) dan merasa diri sebagai wanita. Ada juga yang mengalami kelainan genetik sehingga ada saja perasaan, "Aku adalah wanita yang terjebak dalam tubuh pria", sehingga memutuskan untuk menjadi Transgender, atau sekedar menjadi seorang Guy / Biseksual yang tetap berpenampilan sebagai pria padahal merasa dirinya wanita dan mencari pasangan seorang pria. Ada juga yang terdesak secara ekonomi seperti kasus yang saya ceritakan, terpaksa menjadi orang lain demi mencari uang. Ada juga pria yang normal (merasa bahwa dirinya pria) meskipun menampilkan gaya yang lemah gemulai seperti wanita. Hal ini tidak akan saya bahas secara spesifik karena saya tidak memiliki latar belakang ilmu Psikologi dan saya tidak berpengalaman dalam membahas kasus penyimpangan perilaku seperti ini.

          Saya memang belum pernah berinteraksi secara langsung dengan para banci, karena belum ada kesempatan. Memang saya sedikit takut ketika ada seorang teman yang menawarkan ke Taman Lawang untuk sekedar "lewat". Tapi mengingat jam terbang mereka pada waktu malam, saya langsung mengurungkan niat. Saya juga belum tahu banyak tentang motifasi mereka untuk menjadi banci. Saya juga tidak tahu bagaimana caranya ada orang yang memberikan uang kepada mereka dengan gaya dan penampilan mereka yang seperti itu. Saya juga tidak tahu apa saja yang mereka lakukan untuk mendapatkan uang selain mengamen dan bergoyang, apakah mereka juga melakukan "tugas" sebagai seorang PSK ?

          Seperti yang kita ketahui, para banci di Filipina tidak terlihat seperti banci, bahkan jauh lebih cantik dan terawat dibandingkan dengan para wanita sesungguhnya. Mereka memiliki uang untuk operasi, baik secara keseluruhan (wajah dan jenis kelamin), atau hanya wajah. Namun para banci di Jakarta jarang ada yang se - profesional itu. Mereka menggunakan make up seadanya dan memulai aksi dengan goyangan pinggul demi mencari uang. Mungkin ada saja kasus, "Awalnya hanya acting, tapi lama - lama menjadi melekat menjadi kepribadian", "Awalnya hanya pura - pura menjadi wanita, tetapi lama - lama menjadi merasa diri sebagai wanita". Hal ini terkait dengan kondisi ekonomi mereka yang di bawah garis normal. Jika saja mereka memiliki uang, mungkin mereka memilih menjadi Transgender, mengoperasi tubuh dan wajah mereka, itupun kalau mereka mengalami perasaan, "Aku adalah wanita yang terjebak di dalam tubuh pria".

          Inilah salah satu potret kehidupan manusia, yang sudah kita tahu sejak lama. Mungkin sudah cukup banyak orang yang membahas atau bahkan meneliti penyimpangan perilaku ini. Sepertinya tidak hanya di Jakarta, di kota lain juga ada. Namun itu semua adalah pilihan setiap pribadi. Meski merasa aneh dan dikucilkan masyarakat, tapi "profesi" Banci lebih baik dari pada Pencopet / Jambret / Perampok. Setidaknya para Banci itu tidak melakukan tindakan kriminal, hanya meliuk - liukkan pinggulnya yang tak berlekuk kemudian mendapatkan uang. Setidaknya mereka mengajarkan kita untuk tidak mengambil pilihan terburuk di antara pilihan yang buruk.

Semoga bermanfaat. Tuhan memberkati.



Notes :
Hasil copy paste dari Notes di Facebook "Windy Sitinjak" dengan judul "Penyimpangan Perilaku Karena Terpaksa (Rabu, 14 Maret 2012) oleh Windy Sitinjak (Catatan) pada 14 Maret 2012 pukul 22:37"

Kamis, 09 Mei 2013

Sudahkah Kita Menjadi PAHLAWAN Bagi Kampus Kita ??? (Kamis, 10 November 2011)


          Hari ini adalah HARI PAHLAWAN. Tadi pagi jalan di depan Makam Pahlawan ditutup. Seperti biasa, ada Upacara Bendera untuk Hari - Hari Nasional. Dan sore ini, jalanan di depan Kampus UKI Cawang juga ditutup, karena ada demo mahasiswa UKI.

Inilah berita dari detikNews, saya mengutipnya secara lengkap.

Kamis, 10/11/2011 15:22 WIB
Demo di Depan Kampus UKI Bikin Macet Lagi, Pengendara Kesal
Muhammad Rizki Maulana - detikNews

Jakarta - Berdemo memang boleh-boleh saja. Namun jika aksi itu dilakukan dengan mengganggu kepentingan umum, tentu saja orang lain bisa kesal. Seperti yang terjadi di depan kampus UKI, Cawang, Jakarta Timur.

Sejumlah pengendara mobil yang melintas di Jalan Mayjen Sutoyo dari arah Cililitan ke Jatinegara bersungut-sungut. Mereka kesal karena ada sekitar dua puluhan mahasiswa berdemo di tengah jalan.

"Wah demo kok di tengah jalan jam segini lagi. Bikin macet saja," kata seorang bapak pengendara mobil di lokasi, Kamis (10/11/2011). Bapak itu sampai turun dari mobilnya karena tidak bisa lewat.

Sang bapak itu lantas mengarahkan mobilnya ke jalur TransJakarta yang kebetulan masih steril. Langkah bapak itu juga diikuti oleh sejumlah pengendara mobil dan motor.

Demo yang menuntut SBY-Boediono turun itu memang digelar di tengah-tengah jalan. Para mahasiswa dari sejumlah kampus seperti UKI dan UBK itu berdiri di tengah jalan raya.

Tak cuma berorasi, para mahasiswa itu juga membakar ban bekas. Akibatnya, jalanan tidak bisa dilewati pemakai jalan. "Demo kok mengganggu orang," kata salah satu pengendara motor kesal.

Karena jalan tersebut tidak bisa dilewati, akhirnya polisi lalu lintas mengalihkan para pengendara ke jalur sebaliknya. Empat jalur Jalan Mayjen Sutoyo arah Jatinegara-Cililitan dibagi dua.

Dua lajur untuk kendaraan dari arah Jatinegara ke Cililitan dan dua lajur sisanya untuk menampung kendaraan yang datang dari arah Cililitan ke Jatinegara. Karena sempit, antrean kendaraan pun tak terhindarkan.
(ken/fay)

          Saya pulang melalui PGC, dan kemacetan di Perempatan PGC pun terjadi. Jalan dari arah Halim ditutup menggunakan Police Line (mungkin karena semua orang dari Halim akan menuju ke Cawang). Jalan menuju Cawang ditutup total mulai dari depan PGC. Saya mendengar banyak opini masyarakat yang keluar secara spontan.

Tukang ojek : "UKI demo, jalanan ke arah Cawang ditutup".

          Pengendara motor bertanya kepada supir angkot : "UKI demo ya ?" (seharusnya saya bisa menjawab "iya" dengan refleks, agar pengendara motor itu tidak melintasi jalan di depan UKI. Tapi saya tidak menjawab pertanyaan itu karena saya malu, meskipun saya tahu kalau UKI sedang demo, dan meskipun pengendara motor tersebut tidak mengetahui kalau saya mahasiswi UKI).

Supir angkot (menjawab pertanyaan pengendara motor) : "Iya tuh, UKI demo. Macet !"

Penumpang Mikrolet : "Demo itu muka2 tembok, percuma juga !"

           Pedagang buah di PGC : "Kebakar, UKI kebakar !" (entah apa maksud perkataan pedagang buah tersebut. Apakah ia salah informasi "ada pembakaran ban bekas di depan UKI" menjadi "UKI terbakar karena aksi pendemo" atau karena pedagang buah itu kesal dengan UKI yang demo di sore hari ini ?

          Seperti yang kita ketahui, sore hari (pukul 17.00 WIB) adalah jam pulang kerja. Jadi wajar kalau jumlah kendaraan di jalan raya meningkat tajam dan kesabaran para pengendara mencapai titik terendah. Ditambah lagi ada Demo. Pantas saja pengguna jalan Mayjend Sutoyo Cawang sore ini menjadi melemparkan kata - kata makian.

Mari kita telaah kerugian dari demo yang anarkis :
1. Memalukan almamater
Seorang teman saya menuliskan dalam status Facebooknya, "Lihat tuh kelakuan kalian ! Karena kalian, JK jadi gak bisa dateng ! Yang malu bukan cuma satu orang, tapi satu almamater !". Ya, saya sangat setuju dengan pendapat teman saya ini. Sebagai informasi, seharusnya siang ini Jusuf Kalla akan menghadiri sebuah Seminar di UKI, sebagai pembicara. Kita KOMUNITAS AKADEMIK, kawan. Bukan PREMAN PASAR. Kita berkarya dengan OTAK, teman. Bukan OTOT. Untuk apa orang tua kalian bekerja keras dan membiayai pendidikan kalian sampai di tingkat universitas ? Kalau seperti itu kasusnya, lebih baik orang tua kalian membuatkan kalian sebuah warung kelontong dan menyuruh kalian menjaga warung kelontong tersebut seumur hidup kalian. Itu lebih jelas.

2. Buang waktu, buang energi, buang biaya.
Demo yang entah apa tujuannya dan tidak terlihat pencapaian tujuannya, pasti membuang - buang waktu (minimal 2 jam). Coba kita gunakan 2 jam itu untuk membaca buku pelajaran, kita sudah menghabiskan 1 buku berukuran sedang yang tebalnya 100 halaman, dan sudah banyak ilmu yang kita dapat. Energi yang Anda keluarkan juga percuma. Apakah presiden RI akan turun dalam waktu satu hari setelah Anda demo ? Ataukah Anda hanya menjadi bulan - bulanan pemerintah yang mengatakan "Itu doank kelebihan anak UKI ? Cuma demo ? Gak ada prestasi lain ?". Bayangkan kalau saja untuk membeli ban bekas harus mengeluarkan Rp 30.000 dan membuat spanduk mengeluarkan uang Rp 150.000. Lebih baik uang itu kalian berikan kepada Office Boy dan Office Girl di UKI yang sudah lelah bekerja untuk membersihkan lingkungan kampus kita. Atau uang itu kalian belikan makanan dan minuman dan kalian bagikan kepada GEPENG (GElandangan dan PENGemis) di bawah Jembatan Cawang. Itu jauh lebih bermanfaat, kawan.

3. Merugikan banyak pihak
Pengendara jalan Mayjend Sutoyo Cawang sangat terganggu akan hal ini. Waktu mereka tersita karena harus ber - macet - ria, membalikkan kendaraan mereka ke arah lain, mencari jalan alternatif lain yang bisa dilalui. Yang lebih terasa rugi lagi, para supir angkot yang tidak bisa mencari "sewa" karena trayeknya terganggu. Entah siapa lagi yang merasa rugi karena kejadian sore hari ini.

           Dan apa keuntungan yang kalian dapat dalam demo yang anarkis ? Hanya sebuah nasi bungkus ? Ataukah sebuah pengakuan kalau kalian JANTAN ? Atau kalian ingin diterima di dalam lingkungan kalian ? Atau kalian hanya sok - sok berani (padahal penakut jika tidak sedang bersama - sama dengan kelompok kalian) ? Atau kalian ingin dianggap sebagai PEJUANG / PAHLAWAN ? Atau kalian terpaksa demo karena ada tekanan dari "atasan" kalian ? Atau kalian terprovokasi (nasionalisme buta) ? Atau kalian hanya ikut - ikutan teman (karena tidak ada kegiatan lain) ?

           Ada seorang teman saya menyampaikan aspirasinya kepada saya, "Mereka punya cara yang beda dalam menyuarakan aspirasinya". Sekarang pertanyaan saya adalah, "Apakah menyampaikan aspirasi harus dengan ANARKISME dan MENIMBULKAN KERUSUHAN serta MERUGIKAN ORANG LAIN ?".

            PRESTASI apa yang harus kita ukir untuk kampus kita ? Apakah kita hanya bisa menyumbangkan BERITA NEGATIF di media massa tentang kampus kita ? Sudahkan kita menjadi PAHLAWAN bagi kampus kita ? Sadarkan dirimu kawan. Nama kampus kita sudah tercemar, jadi mengapa kalian semakin mencemarkan nama kampus kita ? Kalau kampus kita dipandang sebelah mata oleh Dunia Kerja, bagaimana kalian mencari kerja ? Kalian akan mengakibatkan dampaknya juga karena ulah kalian.

            Menyampaikan aspirasi itu memang penting. Tapi kita KOMUNITAS AKADEMIK, harus KRITIS dan SOPAN dalam menyampaikan aspirasi. Kita memiliki otak yang diberikan secara percuma oleh Tuhan, apakah kita harus menyia - nyiakannya ?

Pilihlah, kalian sudah tahu mana yang baik dan mana yang buruk :
1. PAHLAWAN / PE - LAWAN ?
2. UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA / UNIVERSITAS KERUSUHAN INDONESIA
3. UNIVERSITAS KASIH INDONESIA / UNIVERSITAS KASIHAN INDONESIA ?
4. UNIVERSITAS KEHORMATAN INDONESIA / UNIVERSITAS KE - PREMAN - AN INDONESIA ?

          Jawaban ada di tangan kalian, dan masa depan bangsa ada di tangan kalian. Jadilah PEMIMPIN yang TAKUT AKAN KRISTUS. Jika kalian bisa menduduki salah satu kursi di Lembaga Resmi Negara dengan prestasi positif yang kalian ukir, perjuangkanlah hal itu.

Semoga bermanfaat. Tuhan memberkati.




Notes :
Hasil copy paste dari Notes di Facebook "Windy Sitinjak" dengan judul "Sudahkan Kita Menjadi PAHLAWAN Bagi Kampus Kita ? (Kamis, 10 November 2011) oleh Windy Sitinjak (Catatan) pada 10 November 2011 pukul 18:51"

Kamis, 12 Mei 2011 ( Kritis atau Anarkis ? )


          Siang tadi gue nongkrong di Perpus, tujuannya mau menyelesaikan Presentasi Komunikasi Internasional kelompok gue. Eh, gue malah ngobrol sama Adek kelas gue. Kami melihat foto2 kerusuhan yang dilakukan kampus kami kemaren (Selasa, 11 Mei 2011). Kami juga membaca informasi dari internet, judulnya "UKI Cs ... (gue gak hapal judulnya)". Entah kenapa mesti UKI yang ditulis terlebih dahulu. Padahal demonstrasi kemarin juga melibatkan 2 kampus swasta yang lainnya. Media juga cuma mau nyari berita yang sensasional sih! Giliran UKI tawuran dan demo, nongol di TV beritanya. Tapi giliran UKI mengadakan event penting, kayak Open House, Malam Budaya, Seminar yang menghadirkan pembicara terkenal atau event2 yang lainnya, malah gak nge-booming itu berita. Diskriminatif nih!

          Gue inget komentar adek2 kelas gue ketika mereka melihat foto teman2 mereka yang pria, yang ikut demo, "Yaelah, belom 1 tahun kuliah udah demo aja. Ngapain demo, UTS aja masih planga-plongo, ditanya Dosen cuma cengo. Blagu banget pake ikut2an demo segala!", mereka berkomentar sambil ketawa-ketiwi. Gue juga ikut ketawa cekikikan.

          Next, malem ini setelah gue pulang kuliah, gue ke warung untuk beli obat. Dan si Penjaga Warung tanya ke gue, "Kemaren ikut2an gak?". Awalnya gue bingung, tapi akhirnya gue ngerti. "Oh, kerusuhan kemaren ya Bu? Saya udah pulang dari kampus sejak jam setengah 3 sore. Saya aja kaget. Tumben banget Pintu 4 ditutup. Di luar pagar juga udah banyak polisi. Ternyata mau ada Demo. Saya tau dari temen saya, kalau hari itu akan ada Demo di depan UKI. Tau tuh, kenapa harus di depan UKI. Saya sih gak sadar kalo kemaren Demo. Soalnya saya sibuk bikin Presentasi, lagi banyak tugas kuliah Bu. Saya baru sadar waktu temen Gereja saya SMS dan bilang "Woy, kampus lo berulah lagi ya? Jalanan ke Cawang kok ditutup?". Setelah itu saya baru buka internet, baca2 berita Bu. Weleh2, memalukan."

           Dan si Ibu menjawab, "Ya, menurut saya sih itu biasa. Biasa lah, jiwa muda, pengen ber-orasi dan menyuarakan suara. Tapi setelah dewasa, saya pikir sih gak akan kayak gitu lagi. Kalo udah kerja malah gak mikirin politik lagi.". Selanjutnya kami ngomongin tentang keadaan Nyokap gue, dan setelah itu gue pulang ke rumah.

          Di perjalanan ke rumah, gue mikir, "Kenapa ya, UKI suka banget tawuran dan demonstrasi? UKI kan kepanjangan dari Universitas Kristen Indonesia, bukan Universitas Kerusuhan Indonesia. Kok gak melambangkan Kasih Kristus sih? Haruskah predikat KRISTEN hanya sebagai nama dan bukan dicerminkan dari perbuatan para penghuninya? Gini nih, terlalu kritis malah jadi anarkis."

          Terus gue inget sama perkataan dosen gue yang ngajar di UKI juga, waktu Semester 1 gue denger kata2 itu, "Ngapain juga kita tawuran dan demo? Pemerintah gak akan kasihan kalo ngeliat mulut kita yang terjahit karena Aksi Mogok Makan. Pemerintah gak peduli kalo mahasiswa mati mengenaskan karena ke-anarkisan yang mereka buat. Dan pemerintah gak akan sembah sujud kepada masyarakat supaya mereka menghentikan aksi irasional mereka. Mending kalian belajar yang rajin dan jadi pemimpin yang sukses, jujur, bermatabat. Supaya kalian bisa merubah Indonesia."

          Bener juga sih kata Dosen gue. Kalo mahasiswa mati duluan karena demo/tawuran, mereka gak akan bisa merubah kondisi Indonesia. Kan udah keburu mati. Kecuali kalo mereka mempersiapkan otak mereka untuk di-adu di tingkat dunia dan mereka bisa jadi pemimpin yang cerdas, Indonesia pun bisa berubah di tangan mereka.

          Ya, menurut gue sih, lebih baik kita mengkritisi Pemerintah lewat tulisan dari pada lewat aksi jalanan. Karena dengan Kritik secara tertulis dan memberikan sindirian secara halus, itu membuktikan kalo kita BERPENDIDIKAN. Kalo aksi anarkis sih, orang2 yang (maaf) gak pernah sekolah pun bisa melakukannya. Yang penting ototnya kuat. Ibarat kata, bisa dijadikan sebagai budak, gampang diprovokasi, gak punya pendapat pribadi dan hanya ikut2an orang lain. Mereka sebagai Pion Catur yang maju duluan, tapi mati duluan juga. Jadi gak punya strategi gitu. Kalo dengan menulis kan kita punya KOMPETENSI. Kita jadi Raja Catur yang punya strategi dan bisa mengatur orang lain. Kita kritis bukan karena disuruh/diperbudak, melainkan untuk kemajuan bangsa kita.

          Memang ada kontroversi antara Anarkis dan Kritik Tertulis. Kedua hal ini memang tidak terlalu mempan untuk merubah kondisi negara secara drastis. Ada yang bilang bahwa Pemerintah gak mempan kalo hanya disindir lewat tulisan, mereka udah mati rasa. Tapi kita lihat, Anarkis juga gak akan meluluhkan perasaan Pemerintah kan? "IDL, Itu Derita Lo!", bisa aja Pemerintah ngomong gitu ke masyarakat saat masyarakat mengadakan aksi yang menyakiti diri mereka sendiri. Inget loh, biaya Rumah Sakit dan biaya hidup kalian mahal banget. Kapan kalian bales jasa ke Orang Tua kalian kalo kalian mati sebelum lulus kuliah?

          Come on, BERPIKIR SEBELUM BERTINDAK. Jangan ada istilah "Karena nila setitik, rusak susu sebelanga", "Jangan karena segelintir orang, nama almamater UKI jadi buruk". Orang2 udah gencar2nya bikin event untuk memperbaiki citra UKI, eh malah kalian menjatuhkannya lagi. Weleh2...'

          Sorry banget nih, gue bukannya sok tau atau sok suci untuk mengkhotbahi kalian. Tapi ayolah, ubah mind setting kalian. Kritis itu penting, tapi jangan mengembangkan Kritis menjadi Anarkis donk. Kritis yang menjadi Anarkis akan membuat keuangan keluarga menjadi krisis loh, abis bayar biaya Rumah Sakit mulu. Syukur2 gak bayar Peti Mati dan Tanah Kuburan. Amit2 deh!

          Semangat ya mahasiswa dan mahasiswi. Kehidupan Indonesia ada di tangan kalian. Sekarang zamannya ADU OTAK, bukan ADU OTOT. Jangan lupa doakan Indonesia supaya dapet pemimpin yang Takut akan Tuhan.

Semoga bermanfaat. God bless you all.



Notes :
Hasil copy paste dari Notes di Facebook "Windy Sitinjak" dengan judul "Kamis, 12 Mei 2011 (Kritis atau Anarkis ?) oleh Windy Sitinjak (Catatan) pada 12 Mei 2011 pukul 20:53"