Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Agustus 2013

Bubu dan Gege (part 2)

          Bubu adalah pria yang gemar membuat surprise. Sudah tiga kali berturut-turut dia memberikan kejutan pada kekasihnya, Gege. Kejutan yang pertama saat Bubu tiba-tiba datang ke rumah Gege untuk melepas rindu sambil berbincang-bincang. Siang itu, Gege sedang melahap mie goreng menu makan siangnya. Di saat yang sama, Gege mendapatkan pesan singkat di HP-nya, pesan dari Bubu yang menyuruhnya untuk keluar dari rumahnya. Ya, Bubu sudah berada di depan rumah Gege. Bubu datang tanpa diundang dan tanpa memberikan kabar sedikitpun mengenai kedatangannya. Ketika itu, Gege hanya mengenakan daster belelnya, dan ia sangat malu saat Bubu mengetahui busana sehari-harinya di rumah. Tapi Bubu tidak mempermasalahkan hal itu, yang penting ia sudah bertemu dengan Gege untuk melepaskan rasa rindunya. Ini kali pertama bagi mereka untuk berkencan di rumah, dan Gege sangat senang atas kedatangan Bubu di rumahnya, meski dengan wajahnya yang memerah seperti tomat di pasar.

          Surprise kedua dari Bubu, sama seperti surprise pertama. Siang itu Bubu datang ke rumah Gege tanpa diundang dan tanpa memberi kabar. Tapi sayangnya Gege sedang tidur siang dengan sangat nyenyak. Tujuh missed call dari Bubu ke HP Gege, tidak membuat Gege bergeming sedikitpun dari tidur nyenyaknya. Kali itu kedatangan Bubu sia-sia karena orang yang dituju tidak dalam kondisi yang sadar. Bubu yang sabar menunggu sedang berusaha menelepon Gege untuk memberitahukan bahwa dirinya sudah berada di luar rumah Gege. Bubu sangat kecewa dan Gege pun demikian. Gege sangat menyesal, seandainya saja tadi ia tidak tidur siang, pasti sudah bisa berjumpa dengan kekasihnya itu. Gege juga sangat meminta maaf ke Bubu karena ia tidak terbangun sama sekali meski dihujani missed call dari Bubu.

          Surprise ketiga ialah saat Gege mengajak Bubu untuk beribadah bersama. Saat itu Bubu tidak bisa datang ke gereja Gege karena ia ingin beribadah bersama Kakaknya di gerejanya. Gege memang kecewa, tapi ia tidak bisa memaksakan kehendaknya. Akhirnya Gege pergi ke gereja seorang diri. Namun ia merasa aneh dengan Bubu yang sore itu terlalu banyak bertanya mengenai keberadaan Gege. Gege ke gereja dengan siapa ? Apakah Gege sudah keluar dari rumah ? Apakah Gege sudah naik angkutan umum ? Sudah berada dimanakah Gege ? Apakah Gege sudah sampai di gereja ? Tidak biasanya Bubu bertanya secara detail seperti itu, bahkan pertanyaan-pertanyaan tersebut diajukan secara cepat seolah Bubu ingin mengetahui perkembangan terakhir mengenai keberadaan Gege. Saat itulah Gege memiliki firasat bahwa Bubu akan berada di gerejanya dengan tiba-tiba tanpa memberikan kabar. Awalnya Gege menyangka bahwa Bubu menunggu Gege di dekat rumahnya, namun Gege tidak menemukan sosok Bubu. Lalu Gege menyangka bahwa Bubu sudah menunggu di depan pintu gereja saat ia sampai di halaman gereja, namun hanya kekosongan yang Gege dapatkan. Tapi setelah Gege melihat motor biru yang terparkir di halaman gereja, Gege mulai harap-harap cemas. Gege menghampiri motor itu dan melihat nomor platnya. Namun untuk kesekian kalinya, Gege hanya bisa menghela napas tanda kecewa karena itu bukan motor biru milik Bubu. Setelah itu Gege pergi ke toilet untuk mencuci tangan, lalu berjalan menuju ke gereja dan melewati tempat parkir. Saat itu, Gege terkejut senang karena melihat wajah Bubu yang senyum sumringah. Firasat Gege benar, Bubu berbohong bahwa ia tidak bisa beribadah bersama Gege, namun kenyataannya hari itu Bubu bisa duduk di sebelah kekasihnya selama satu setengah jam di dalam gereja. Bubu terlambat datang dan sebenarnya ia memang ingin membuat kejutan ke Gege. Bubu membuat sebuah rencana, saat Gege sudah duduk di dalam gereja, Bubu ingin tiba-tiba duduk di sebelah Gege padahal Bubu berkata bahwa ia tidak bisa datang ke gerejanya Gege. Namun yang terjadi ialah, Bubu bertemu dengan Gege di tempat parkir. Meski kejutan itu tidak berjalan mulus, tapi itu sudah membuat Gege tertawa riang dalam kemerahan wajahnya.


          Dan pada suatu hari, Gege ingin memberikan kejutan kepada Bubu. Minggu itu Gege ingin mencari suasana baru, karena itulah ia pergi beribadah di gerejanya Bubu. Ini adalah kedua kalinya Gege menginjakkan kaki di gereja itu dan beribadah di sana. Kali ini ia ingin beribadah di sana sekaligus memberikan kejutan kepada Bubu. Gege memberitahukan kepada Bubu bahwa hari itu mereka pergi beribadah ke gereja mereka masing-masing saja. Namun kenyataannya Gege sudah di jalan, menuju ke gerejanya Bubu. Gege ingin memberikan dua kotak coklat kepada Bubu saat di gereja nanti. Namun kabar yang Gege dapatkan bahwa Bubu sudah berencana untuk beribadah di jam yang lain karena saat itu ia sedang menyaksikan pertandingan final bulutangkis di televisi yang sayang bila dilewatkan, jadi saat itu Gege tidak bisa bertemu dengan Bubu di gereja. Gege memang kecewa, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Gege tidak marah kepada Bubu, karena tidak ada yang bisa disalahkan dalam hal ini. Sama seperti kedatangan Bubu ke rumah Gege saat Gege tidur siang. Tidak ada pemberitahuan dari Bubu sebelumnya, jadi Gege tidur siang saja. Tidak ada pemberitahuan dari Gege sebelumnya, jadi Bubu tetap pada planning-nya untuk beribadah di jam yang lain karena ingin menonton pertandingan final. Anggap saja sebagai kejutan yang tertunda. Bubu sangat merasa bersalah karena ia tahu bahwa Gege ingin beribadah dengannya dan ingin memberikan kejutan untuknya, buktinya Gege secara tiba-tiba berkunjung ke gerejanya Bubu. Bubu merasa tidak enak hati dan karena itulah malam harinya ia datang ke rumah Gege secara tiba-tiba untuk meminta maaf. Seperti biasa, layaknya Casper yang bisa muncul tiba-tiba tanpa ada tanda-tanda, demikian juga Bubu tiba-tiba muncul di rumah Gege tanpa ada kabar yang menyertai kedatangannya. Untuk kesekian kalinya Bubu mengirimkan pesan singkat ke HP-nya Gege dan menyuruh Gege agar keluar dari rumahnya. Gege mendapatkan Bubu sedang duduk di atas motor birunya sambil tersenyum. Gege pun mendapatkan sebuah ice cream dari Bubu. Walhasil, mereka saling bertukar pemberian. Bubu dan Gege memakan ice cream tengah malam sambil berbincang-bincang. Bubu meminta maaf kepada Gege, dan Gege pun memaafkannya. Mereka pun kembali tertawa dalam kemesraan karena nanti akan ada banyak kejutan di balik rasa cinta mereka.

Kamis, 08 Agustus 2013

Bubu dan Gege (part 1)

          Hari itu seperti kisah di sinetron yang menjadi kenyataan ketika kedua sejoli yang sedang dimabuk asmara pergi berdua. Setelah menonton film bioskop bersama teman-temannya, Bubu dan Gege pun pulang berdua. Bubu membonceng Gege dengan motor birunya. Mereka pun keluar dari mall tempat mereka menonton bioskop setelah menyantap makanan dan minuman serta berbincang ramai dengan teman-teman mereka. Tapi tidak berapa lama, hujan pun turun rintik-rintik dan semakin lama semakin deras saja. Bubu memutuskan untuk menghentikan laju motornya di sebuah Halte Bus dan mereka pun berteduh di sana. Hampir satu jam mereka menunggu hujan reda, berbincang dalam kemesraan seolah dunia milik berdua. Wajar saja, relationships mereka baru berjalan satu setengah bulan. Ibarat pengantin yang baru menikah, mereka selalu ingin honey moon setiap saat. Demikian juga dengan Bubu dan Gege yang ingin berduaan tiap saat. Mereka masih sangat hangat dalam menjalani hubungan itu. Hukum Jam Detik pun berlaku, satu jam serasa satu detik, itulah yang mereka rasakan saat itu.

          Dan seperti di sinetron pula, malam itu Bubu memberikan jaketnya kepada Gege agar Gege tidak kedinginan. Wajar saja, hujan di malam Kamis itu terlalu deras sehingga percikan air hujan juga membasahi orang-orang yang berteduh di bawah halte, termasuk Bubu dan Gege. Gege memang merasa kedinginan karena terkena percikan air hujan ditambah dengan udara malam yang mengigit, namun wanita kuat itu tidak mau terlihat lemah dan cengeng dengan kondisi yang ada, ya meskipun ia lebih sering berperilaku manja di depan Bubu. Bubu pun berinisiatif untuk menyerahkan jaketnya tanpa diminta oleh Gege, kemudian Bubu menyuruh Gege memakai jaket itu. Bubu juga sempat naik ke atas tangga jembatan penyeberangan untuk melihat kondisi di sana. Bubu berharap bahwa di sana lebih aman dari serangan percikan air hujan, namun kenyataan yang didapat bahwa berteduh di bawah halte lebih aman dari pada di tangga jembatan penyeberangan itu. Bubu juga memutuskan untuk mengambil mantel hujannya dari bagasi motor untuk menutupi punggung mereka berdua agar tidak terserang percikan air hujan dari arah belakang. Bubu sangatlah baik.

          Yang namanya wanita pasti memiliki sifat manja, terutama saat wanita itu sedang bersama orang yang ia cintai. Selama menunggu hujan reda, kepala Gege terus menerus bersandar di bahu Bubu, dan Bubu pun tidak melepaskan rangkulannya dari pundak Gege seolah ingin memberikan kehangatan kepada Gege. Memang terlihat sangat romantis meski mereka sedang terkepung oleh ribuan rintik hujan yang mengigit tubuh buntal mereka berdua. Adegan romantis yang sering diperlihatkan di sinetron-sinetron kini sedang mereka alami, bahkan sama persis. Cerita demi cerita pun mengalir dari mulut mereka berdua, mengisi waktu yang kosong dengan hati yang penuh cinta. Cerita mengenai keluarga menjadi topik utama dalam pembicaraan mereka kini. Berbagi kisah dalam kasih dan berbagi cinta dengan hati, hingga hujan benar-benar berhenti mengepung dan mereka pun bisa kembali melanjutkan perjalanan pulang. Bubu adalah pria yang bertanggungjawab, ia mengantarkan Gege hingga Gege menginjakkan kaki di rumahnya yang sederhana.

          Sesampainya di rumah Gege, mereka berdua pun kembali melanjutkan obrolan yang seru. Mulai dari pengalaman berkendara, keluarga, teman, sampai bisnis. Dan kembali ke Hukum Jam Detik, tidak terasa sudah 3 jam Bubu berbincang dengan Gege, tetapi sepertinya mereka baru saja menghabiskan 3 detik untuk berbincang berdua. Dan mereka masih membutuhkan banyak waktu untuk berbincang berdua, menceritakan semua sisi kehidupan mereka sampai hal yang terkecil sekalipun, sehingga mereka bisa saling mendalami karakter pasangan dan mengenal keluarga pasangan. Tidak peduli di halte yang sempit dan dihuni oleh banyak orang, ataupun di taman yang sepi dan menenangkan, atau bahkan di tempat makan yang ramai dan penuh sesak, selama mereka berdekatan maka dunia serasa milik berdua (sedangkan orang yang lainnya hanya mengontrak sementara waktu, jadi tidak perlu dihiraukan kehadirannya). Dan mereka sangat rindu untuk menghabiskan waktu berdua, sekedar berbincang seru atau bahkan berbincang mesra dengan dibumbuhi kecupan pipi dan pelukan hangat dalam aksi komunikasi mereka.

          Bubu dan Gege merasa puas dengan hari itu karena mereka menghabiskan waktu berdua. Sepertinya Tuhan sedang melukiskan kisah cinta untuk mereka dengan mendatangkan hujan deras yang memaksa mereka untuk berteduh di halte meski Gege ingin segera sampai di rumahnya. Dan Tuhan juga mengizinkan Bubu untuk menghabiskan sisa malamnya di rumah Gege dengan segelas susu coklat buatan Gege serta tawa canda bahagia dari mereka berdua. Malam Kamis yang indah kini menjadi Malam Minggu, malam yang diidentikkan dengan kemesraan pasangan yang sedang dimabuk cinta, malam dimana waktunya para pria dan wanita memadu kasih dalam kemesraan, malam dimana setiap pasangan merayakan momen berduanya dengan kekasih tercinta. Tetapi kapan pun waktunya, selama hati Bubu dan Gege masih saling terpaut, maka setiap hari mereka bisa merasakan momen yang romantis, setiap malam bisa menjadi Malam Minggu, bahkan setiap detik bisa menjadi rasa syukur karena kini mereka sedang menjalani hubungan yang khusus. Kapan pun bisa menjadi momen yang spesial asalkan kita berada di sisi orang yang spesial.


          Bubu dan Gege tidak akan pernah tahu kisah apa lagi yang akan Tuhan goreskan pada perjalanan cinta mereka, baik ataupun buruk. Bubu dan Gege hanya bisa menjalani skenario yang telah Tuhan tetapkan dalam kehidupan mereka, tanpa ada hak untuk mengubah cerita pada skenario tersebut, karena Tuhan tahu apa yang terbaik untuk hubungan mereka, kini dan selamanya.

Jumat, 10 Mei 2013

Sebuah Cerita tentang Korupsi (Selasa, 23 Oktober 2012)


          Tepat pukul 7 malam, Christa dan kedua orang tuanya sedang menonton berita di televisi. Kasus korupsi yang menimpa beberapa pemimpin pun dikupas satu per satu dalam berita itu.
"Nak, kalau kamu sudah besar nanti, jangan korupsi ya. Dosa", ucap Ayah Christa.

           Christa yang baru berumur 7 tahun pun kurang mengerti maksud perkataan Ayahnya, meski setiap malam ia mendengar berita tentang korupsi.
"Korupsi itu apa Pah ?", Christa bertanya dengan polosnya.
"Korupsi itu mengambil hak milik orang lain, Nak. Para koruptor di TV itu mengambil uang rakyat demi kepuasan dirinya sendiri. Padahal, pajak negara jauh lebih berguna untuk membangun jalan, jembatan, dan fasilitas umum lainnya untuk kesejahteraan rakyat. Koruptor itu mencuri uang rakyat, Nak", Ayah Christa menjelaskan panjang-lebar tentang definisi korupsi.

          Setelah mendengar kata "mencuri", Christa menjadi tahu bahwa korupsi adalah perbuatan yang jahat. Hampir setiap hari dia mendapatkan pendidikan moral di sekolahnya bahwa mencuri itu perbuatan jahat. Ibunya pun mengajarkan bahwa Christa dilarang mencuri, karena dosa. Setiap hari Minggu dia juga mendengar Perintah Allah yang ke-8 yaitu JANGAN MENCURI. Ya, kini dia tahu bahwa KORUPSI = MENCURI.
"Kenapa mereka mencuri uang Pah ? Memangnya mereka tidak punya uang dan harus mencuri uang orang lain ? Mereka miskin ya Pah ? Apa mereka sama seperti cerita di TV kemarin, mencuri uang karena tidak punya uang untuk makan dan biaya perawatan di Rumah Sakit ?", tanya Christa dengan penasaran.
Memang, kemarin Christa baru saja menonton sebuah program televisi yang mengandung nilai moral. Seorang anak mencuri uang untuk membiayai perawatan adiknya yang terbaring lemah di Rumah Sakit. Karena itu ia mencoba menghubungkan alasan para pemimpin tersebut untuk MENCURI uang.

"Mereka tidak miskin Nak, mereka jauh lebih kaya dari pada kita. Tetapi mereka tidak pernah bersyukur atas harta yang mereka miliki, jadi mereka mencuri uang-uang itu. Karena mereka memiliki JABATAN, mereka menyalahgunakan KEKUASAAN itu untuk meraup uang sebanyak-banyaknya, mumpung punya kekuasaan. Padahal, JABATAN dan KEKUASAAN itu dianugrahkan dan dipercayakan Tuhan kepada mereka agar mereka bisa menjadi BERKAT untuk banyak orang, bukannya menjadi JERAT untuk banyak orang", lanjut Ayah Christa.
Christa semakin bingung dengan penjelasan ayahnya. Ia hanya mengangguk-anggukan kepalanya dengan dahinya yang berkerut.
"Oke Pah, Christa janji, kalo Christa udah gede nanti, Christa gak akan korupsi", lanjutnya kemudian.

Tepat pukul 9 malam, Christa beranjak dari tempat duduknya. Ia pergi ke kamarnya untuk beristirahat.
"Jangan lupa berdoa ya Nak", ucap Ibu Christa yang mengantarkan Christa ke kamarnya.
"Iya Mah. Selamat tidur Mah", jawab Christa.
Setelah Ibu Christa mengecup kening Christa, sang Ibu pun pergi dan menutup pintu kamar anak sematawayangnya itu.
Christa pun mulai berdoa dengan sangat polos. Dengan ditemani sebuah lampu kecil yang meneranginya dalam kegelapan, Christa berdoa sendiri di kamarnya.

"Tuhan Yesus yang baik, malam ini Christa berdoa untuk para pemimpin yang mencuri uang rakyat. Tuhan tau kan kalo itu perbuatan jahat ? Semoga hati mereka gak tenang karena dikejar-kejar dosa. Semoga mereka akan sakit perut dan diare karena makan uang hasil curian. Semoga mereka yang wanita akan mandul. Terus mereka sering sakit-sakitan. Semoga mereka kecelakaan, terus cacat. Abis, mereka jahat banget sih Tuhan. Kan Tuhan udah ajarin gak boleh mencuri, tapi mereka tetap mencuri. Christa sebel deh Tuhan, masa' mereka tega sih mencuri ? Padahal, mereka kan udah kaya, gak kekurangan uang lagi. Coba mereka lihat orang di pinggir jalan yang gak punya uang untuk makan. Kenapa mereka gak kasih makan ke orang-orang yang di pinggir jalan itu ? Tuhan hukum mereka secepatnya ya, supaya mereka sadar kalo mereka salah. Terima kasih Tuhan. Amin".

Setelah Christa menutup doanya dengan kata "Amin", sang Ibu pun masuk ke kamarnya.
"Anakku, doamu yang tadi itu salah", ucap Ibu Christa.
"Hah ? Salah kenapa Mah ?", tanya Christa heran.
"Di dalam doa, kita tidak boleh menyumpahi orang lain. Semoga mereka sakit perut dan diare karena memakan uang hasil curian, semoga mereka mandul bagi yang wanita, semoga mereka ini, semoga mereka itu. Tuhan tahu apa hukuman yang tepat untuk mereka, karena Tuhan adalah Hakim yang Adil. Kita jangan menghakimi mereka. Justru kita harus mendoakan mereka agar mereka cepat bertobat. Sekarang, Mama pimpin Christa berdoa, Christa ikuti dalam hati ya".
Christa pun mengangguk. Lalu Ibu Christa pun meraih tangan anaknya untuk berdoa bersama-sama.

"Bapa di dalam Surga, kami berterima kasih untuk setiap pemimpin yang telah Kau anugrahkan kepada kami. Biarkanlah mereka melakukan tugas dan tanggung jawabnya sesuai dengan kehendak-Mu, bukan berdasarkan kehendak mereka sendiri ataupun kehendak iblis. Kami tahu bahwa Engkaulah Allah yang Maha Kuasa dan Maha Tahu. Engkau tahu perbuatan buruk para pemimpin kami, bahkan hingga pikiran jahat mereka sekalipun. Tidak ada yang tersembunyi di hadapan-Mu Bapa. Saat ini kami berdoa untuk para pemimpin kami yang sudah berjalan jauh menyimpang dari ajaran-Mu. Kembalikanlah mereka ke dalam pelukan-Mu Bapa. Berikanlah mereka hikmat yang dari pada Mu saja. Ingatkan mereka akan perbuatan yang telah mereka lakukan. Lepaskanlah mereka dari jerat iblis yang menggoda mereka untuk terus menerus korupsi dan merampas hak milik orang lain. Ingatkan kepada mereka bahwa KEKUASAAN dan KEKAYAAN yang mereka miliki adalah ANUGRAH yang datang dari pada Mu saja. Hendaknya mereka menjadi BERKAT dan bukan jerat. Hendaknya mereka menjadi panutan bagi kami rakyatnya. Hendaknya mereka menjadi kepala yang memberi arahan bagi kami anggota tubuhnya. Hendaknya mereka menjadi garam dan terang bagi kami orang yang dipimpinnya. Engkaulah yang berkuasa di atas segalanya. Engkau berkuasa atas kami, terlebih lagi atas mereka. Engkaulah Hakim yang Adil, ketika semua hukum di dunia ini hanya berpihak kepada mereka yang mampu membayar dengan harga tinggi. Engkaulah Guru yang baik ketika para pemimpin kami memberi contoh untuk korupsi. Kami serahkan mereka ke dalam tangan-Mu Bapa, ampunilah mereka seperti halnya Engkau mengampuni kami. Kami tahu bahwa Engkau tidak menginginkan kematian orang Fasik, melainkan menginginkan pertobatannya. Kami serahkan hanya kepada-Mu. Di dalam nama Yesus, kami sudah berdoa dan mengucap syukur. Amin".

          Setelah berdoa bersama, Christa pun terlelap dalam mimpinya. Ia bermimpi menjadi pemimpin yang memiliki INTEGRITAS, pemimpin yang MELAYANI TUHAN dan bukan melayani iblis, pemimpin yang menjadi BERKAT dan bukan menjadi jerat.










Notes :
Hasil copy paste dari Notes di Facebook "Windy Sitinjak" dengan judul "Sebuah Cerita Tentang Korupsi (Selasa, 23 Oktober 2012) oleh Windy Sitinjak (Catatan) pada 23 Oktober 2012 pukul 23:51"

Semuanya Terasa Sia - Sia, Hanya Yesus Sumber Kehidupanku (Senin, 2 Juli 2012)


          Aku adalah pria berumur 27 tahun, anak tunggal dari sebuah keluarga kaya raya. Aku lahir di Jerman tetapi aku tumbuh dan berkembang di Jakarta. Aku menetap di Jakarta sejak usiaku 5 tahun. Saat itu keluarga kami terpaksa pindah ke Jakarta karena ayahku harus mengurusi bisnisnya yang hampir collapse di Jakarta. Ayahku memiliki sebuah perusahaan terkemuka di Jakarta, sebut saja PT Wisastra, yang berkembang di bidang manufaktur, pembuatan mesin – mesin mobil. Omset perusahaan ayahku kini 100 juta / bulan. Ayahku mengambil alih perusahaan itu sejak 25 tahun yang lalu, ketika kakekku meninggal dunia dan jabatan sebagai Direktur Utama menjadi berpindah tangan ke ayahku. Saat aku berusia 23 tahun, ayahku ingin mempekerjakanku di PT. Wisastra, karena aku dianggap berkompeten untuk menjadi seorang Presiden Direktur, meski usiaku tidak pantas untuk menduduki jabatan itu. Sepertinya jiwa kepemimpinan yang dimiliki oleh  kakekku menurun ke ayahku dan berlanjut ke kehidupanku. Tapi tentu saja aku menolak permintaan ayahku karena aku tidak berminat untuk berkecimpung di dunia manufaktur. Aku lebih menyukai bisnis di dunia kuliner. Saat ayahku memintaku untuk bekerja di perusahaannya, saat itu pula aku meminta modal untuk membangun dan mengembangkan sebuah restoran. Dalam waktu 5 tahun, Charesto yang aku kembangkan sudah memiliki 3 cabang. Satu di daerah Puncak, satu di daerah Kuningan, satu lagi di daerah Ancol. Tentu saja ini adalah sebuah perkembangan yang dahsyat menurutku. Ditambah lagi, Charesto adalah restoran yang sangat diminati oleh kalangan masyarakat menengah ke atas. Wajar bila pendapatanku dalam sebulan sekitar 50 juta rupiah. Eksekutif muda, demikian pandangan orang – orang terhadapku. Dalam usia 27 tahun, aku sudah bisa memiliki rumah di kawasan Pondok Indah dengan sebuah mobil seharga 2 miliar.

          Sebenarnya aku sengaja menolak permintaan ayahku, aku tidak mau membantunya untuk mempertahankan kesuksesan PT. Wisastra, karena aku tidak merasa terpanggil untuk berkecimpung di dunia itu, dan aku sudah lelah untuk mengikuti semua kemauan ayah. Bisa dibilang, aku mulai membangkang, karena sejak kecil kehidupanku seperti dikendalikan oleh ayahku. Aku seperti tidak memiliki kuasa atas kehidupanku. Aku disuruh mengikuti les ini dan itu, sering – sering berkunjung ke rumah sakit milik pamanku agar aku akrab dengan dunia kedokteran, mengikuti lomba cerdas cermat dan mengambil kelas IPA lalu melanjutkan kuliah di jurusan kedokteran. Ah, aku cukup menyesal melakukan itu semua. Tapi demi menyenangkan hati ayah, aku melakukan semuanya itu. Sekarang aku sudah menamatkan pendidikanku di salah satu Universitas Idola di Jakarta. Dengan menyandang gelar “Dokter”, aku sudah melunasi permintaan ayahku. Memang, otakku sanggup untuk mengikuti semua mata kuliah di universitas itu, dan aku pun mendapat IP terbaik di antara mahasiswa/i lainnya. Ya, secara kepintaran dan jiwa kepemimpinan, aku memang unggul. Dari segi fisik pun aku tampan. Banyak wanita yang memintaku untuk menjadi pacarnya, atau sekedar mendekatiku karena mereka memujaku. Bukannya aku mau menyombongkan diri, tetapi aku hanya melihat reaksi orang – orang di sekitarku.

          Mungkin jika dilihat oleh mata kepala, aku memang sempurna. Wajahku tampan, tinggi, putih bersih, gigiku rapih dan terawat, berat dan tinggi tubuhku ideal, tubuhku terlahir normal dengan anggota tubuh yang lengkap. Di sisi lain, aku pun pintar, bisa menjadi Dokter yang lulus dengan nilai cum laude,  bisnisku di bidang kuliner pun lancar. Aku kaya, mapan secara materi, humoris, rendah hati, ramah terhadap sesama. SEMPURNA, itulah yang orang pikirkan tentang diriku. Tapi, mereka tidak mengetahui tentang pergumulanku.

           Memang, aku memiliki segalanya. Kekayaan, ketampanan dan kepribadian yang positif. Tapi tidak ada seorangpun yang tahu bahwa hidupku ini terasa hampa. Ya, mereka hanya melihat senyum di wajahku dan tawa riangku ketika kami bertemu. Tetapi mereka tidak mengetahui kalau aku dipaksa oleh ayahku untuk menjadi Dokter, mereka tidak tahu kalau aku tumbuh dengan kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuaku karena mereka sibuk bekerja, mereka tidak tahu bahwa selama ini aku hanya menjalankan kewajiban tanpa menerima kebahagiaan.

          Jujur saja, aku sudah terbiasa untuk tidak memegang uang cash, karena kartu debet dan kartu kredit dapat membeli apa saja yang aku inginkan, barang ataupun jasa. Aku sudah terbiasa untuk memiliki gadgetkeluaran terbaru, sedangkan gadget yang lama ku berikan kepada teman – temanku atau ke saudara – saudaraku. Aku sudah terbiasa untuk selalu menikmati makanan di luar rumah, dengan berbagai harga, rasa dan dari berbagai negara. Aku sudah terbiasa untuk terbang ke luar negeri, sekedar mengunjungi saudaraku ataupun keperluan lain. Aku sudah terbiasa untuk pergi ke mall ataupun night club, menyisihkan waktuku untuk berkumpul dengan teman – temanku, bersenang – senang dengan mereka. Namun aku merasa hampa, semua yang aku lakukan seperti tidak ada gunanya. Aku merasa hampa bukan karena aku tidak memiliki pacar. Ya, seperti yang sudah ku bilang tadi, banyak wanita yang mengejarku, tapi aku tetap selektif untuk memilih di antara mereka. Karena aku tidak ingin sebagian kekayaanku berpindah tangan ke pacarku, mengerti kan maksudku ? Sudah dua tahun aku berpacaran dengan artis tercantik di Indonesia, tapi itu semua terasa tidak cukup.

          Aku sudah terbiasa untuk mempersembahkan 10 % dari penghasilan perbulanku sebagai Perpuluhan di gereja. Bahkan keluargaku sudah terbiasa untuk menjadi penyumbang utama di event – event yang dilaksanakan oleh gerejaku atau untuk acara pemuda/i di gerejaku. Aku menyumbang materi, hanya itu yang bisa aku persembahkan, karena aku tidak memiliki waktu untuk terlibat pelayanan. Aku terlalu sibuk untuk bekerja. Aku praktek di rumah sakit milik pamanku dan sesekali menyempatkan diri untuk berkunjung ke restoran milikku yang aku percayakan pengelolaannya kepada saudara – saudaraku sebagai manajernya, ikut rapat perusahaan bila diperlukan. Aku pun harus menyempatkan waktu untuk berkumpul dengan teman – temanku  dan berkencan dengan pacarku. Jadi, dengan kesibukanku yang sebanyak itu, aku rasa hanya menyumbang materi saja sudah cukup, itukan yang dibutuhkan oleh Tuhan untuk mengembangkan gereja – Nya ? Memang, dulu teman gerejaku sempat mengajakku untuk terlibat dalam pelayanan di gereja. Temanku menasehatiku, ia berkata bahwa uang bukanlah persembahan utama yang harus aku berikan untuk Tuhan. Tapi aku bekerja mencari uang untuk aku persembahkan kepada Tuhan, untuk event – eventdi gereja, untuk membangun rumah Tuhan dan membayar pelayan – pelayan – Nya. Semuanya untuk Tuhan. Dan kini aku terkungkung oleh semua aktifitas – aktifitasku yang membosankan, demi uang. Hambar, tawar dan datar, itulah kehidupanku yang sekarang.

           Pada suatu hari, perusahaan ayahku benar – benar bangkrut dan keuntungan yang aku peroleh dari restoranku aku usahakan untuk menutupi kerugian perusahaan ayahku. Akhirnya kedua restoranku pun terpaksa gulung tikar, mengikuti jejak perusahaan ayahku. Hari itu, disaat aku sedang mengalami banyak tekanan, aku melihat pacarku melakukan hubungan intim dengan pria lain. Dua tahun kami menjalin kasih dan beberapa hartaku ku berikan padanya secara cuma – cuma, itulah balasan yang dia berikan. Memang, pacarku bukan wanita yang gila harta, tetapi aku sebagai pria merasa wajib untuk memberikan apa yang dia minta.

            Hari itu, tepat ketika aku sedang mengalami banyak masalah, aku menyupir mobilku dengan kecepatan tinggi. Seketika itu juga,, BRAAAKKK !!! Dan semuanya terasa gelap.

          Tiba – tiba aku terbangun dan melihat sesosok bayangan putih yang tinggi, Ia menuntunku ke sebuah televisi layar lebar, sangat lebar. Di sana aku menonton diriku sendiri. Aku melihat semua aktifitas – aktifitas yang telah aku lakukan di dunia. Semuanya. Mulai dari aku lahir, aku tumbuh di tengah orang tua yang sangat sibuk bekerja sehingga di saat aku dewasa akupun terlalu sibuk untuk bekerja, aku melihat diriku yang diwisuda menjadi Dokter dengan ekspresi wajah yang sangat datar tidak ada rasa bahagia sama sekali, aku menonton usahaku untuk membangun dan mempertahankan restoran milikku, aku melihat kesibukanku yang di luar batas sampai tidak sempat makan dan beberapa kali absen ke gereja, aku melihat banyak orang – orang yang mengagumiku dan menganggap aku sempurna, aku melihat wajahku yang datar dan sombong ketika aku menyerahkan perpuluhan ke gereja atau disaat menyumbang untuk acara di gereja, aku melihat diriku yang sedang dinasehati oleh temanku tetapi aku membantah pemikirannya bahwa uang itu bukanlah persembahan yang utama, aku melihat pacarku yang sedang selingkuh terlalu jauh dengan pria lain, aku melihat teman – temanku sedang menikmati suasana “remang” di night club lalu tak lama kemudian aku bergabung dengan mereka, sampai pada akhirnya aku melihat mobilku menabrak sebuah truk besar, dan seketika itu juga televisi layar lebar itu pun mati. Satu hal yang paling menarik dari semua yang aku lihat di televisi layar lebar itu adalah, aku melihat Yesus di setiap aktifitas yang aku kerjakan. Aku melihat Sang Juru Selamatku itu berada di sampingku. Aku melihat wajah Allahku itu sangat sedih, entah kenapa.

          Setelah potongan – potongan gambar di televisi layar lebar itu berakhir, aku tersadar dan mendapati diriku sedang berada di sebuah ruangan, dengan berbagai alat – alat kedokteran yang biasa aku sentuh setiap harinya. Infus, EKG, tabung oksigen, selang pernafasan, dan semuanya. Harum khas rumah sakit yang selalu aku hirup setiap hari, kini aku hirup lagi setelah aku menonton Televisi Kehidupanku itu. Lalu aku melihat ayah dan ibuku berlari ke arahku, menangis terharu, entah ada apa, aku belum sadar betul apa yang telah aku alami. Mengapa aku berada di Ruang UGD ? Aku tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun, aku hanya bisa mendengar bahwa ibuku mengatakan bahwa, “Syukurlah Nak, kamu sudah sadar. Sudah 3 hari kamu koma”.

          Esoknya, ketika aku sudah dipindahkan ke Ruang Rawat Inap, seorang pria masuk ke kamarku dan meghampiri tempat tidurku.

“Syalom”, sapa pria itu.

“Syalom”, sahutku. Aku tahu, dia pasti seorang pendeta, aku melihat ada Alkitab di tangannya. Memang, di rumah sakit itu pasti ada Pelayan Iman bagi orang sakit. Apapun agama si pasien, pasti ada pelayannya. Orang yang menyemangati si pasien secara rohani. Aku tidak mengenal pendeta ini sebelumnya, mungkin dia pelayan baru di rumah sakit tempat aku bekerja ini.

“Apa kabar ?”, lanjutnya.

“Baik Pak Pendeta”, jawabku.

“Tetap semangat ya, harus semakin bertumbuh di dalam Kristus. Meski raga sedang sakit, tapi Roh Allah yang bekerja di dalam kehidupan Saudara tetap ada”, balasnya sambil tersenyum. Akupun ikut tersenyum.

“Saya salah satu pelayan di rumah sakit ini. Saat ini saya ingin membagikan berkat melalui Firman Allah. Langsung saja kita buka dari Roma 12 ayat 1. Saya bacakan ya. Karena itu, saudara – saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah; itu adalah ibadahmu yang sejati”, sahut pendeta itu.
“Oh Tuhan, ini adalah nasehat yang diberikan oleh teman di gerejaku, mengapa Engkau mengulanginya lagi kepadaku melalui pendeta ini ?”, gumamku.

“Nah, saya punya cerita yang menarik untuk Saudara. Ini adalah sharing dari sahabat saya. Saya memiliki sahabat, ia seorang wanita, ia sangat terobsesi untuk menjadi kaya raya, karena dari lahir ia sudah menderita secara ekonomi. Dia berusaha sekuat tenaga untuk menjadi kaya, mengubah kondisi ekonomi keluarganya. Kemudian ia berhasiI menjadi wanita karir yang sukses. Hartanya melimpah, mobilnya ada tiga, rumahnya ada dua, besar – besar semua, tapi ia lupa bahwa Tuhan membantunya untuk mengumpulkan harta di dunia. Ia menjadi kaya bukan hanya karena usaha yang ia lakukan untuk menjadi kaya, tapi Tangan Tuhan juga turut bekerja di dalam usahanya. Tapi itulah Saudara, ia hanya memikirkan perkara yang di dunia yaitu bagaimana menjadi kaya dan mengubah kondisi ekonomi keluarganya. Ia memang melupakan masa lalunya yang sulit, tetapi ia juga melupakan Tangan Tuhan yang sudah membantu dia. Dan lebih parahnya lagi, ia terlalu giat bekerja, sampai – sampai ia melupakan kesehatannya. Ia sempat dirawat di rumah sakit karena penyakit maag – nya kambuh. Yang ada dipikirannya hanya uang, uang dan uang. Kesehatan itu prioritas yang kesekian. Setelah kaya, dia lupa mengkonsumsi makanan yang sehat pula. Makan junkfood terus, daging, makanan instan, supaya cepat kalau makan dan bisa secepatnya kembali bekerja, demi uang. Untuk yang kesekian kalinya dia masuk ke rumah sakit, dirawat dengan jenis penyakit yang lain. Dia kena tifus, Saudara. Dia menyi – nyiakan tubuhnya hanya untuk uang. Padahal kita tahu bahwa kesehatan itu jauh lebih mahal dari pada uang itu sendiri. Dan lagi Saudara, di dalam keberhasilan yang ia raih, dia tidak mempersembahakan tubuh dan waktunya kepada Allah. Dia hanya mempersembahkan uang kepada Allah. Padahal, Allah kita itu jauh lebih kaya loh dari pada kita. Dia yang punya semuanya, bumi, laut, udara, matahari, bulan, bahkan hidup Saudara. Tapi kenapa kita membuat Allah seperti membutuhkan uang kita ? Kenapa kita membuat Tuhan itu seperti pengemis di jalanan yang minta uang receh untuk makan ? Jangan salah loh Saudara, Tuhan kita itu sebenernya gak butuh uang kita. Tapi Dia butuh jiwa dan raga kita untuk melayani Dia. Melayani Dia dengan tulus, sesuai dengan Firman Tuhan di Lukas 10 ayat 27, kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Kita melayani Allah sebagai respon kita atas Anugerah Keselamatan yang Allah berikan kepada kita, bukan karena kewajiban atau untuk mendapat keselamatan itu sendiri. Kalau pelayanan kita itu sebagai kewajiban, ada saja loh orang yang merasa harus melayani karena tuntutan jabatan atau karena ingin dipandang sebagai orang baik, tapi hatinya tidak siap untuk melayani. Sahabat saya itu bercerita bahwa di Ibadah Sore, ia diingatkan oleh Tuhan melalui Firman – Nya. Saya sangat bersyukur ketika ia tersadar. Khotbah itu diambil dari Matius 6 ayat 19 sampai dengan 20. Saya bacakan. Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Dari situlah dia tersadar dan tidak mengutamakan uang di dalam hidupnya. Dahsyat sekali ya Tuhan kita itu bekerja. Cuma dua ayat yang dibacakan dari Alkitab dan dalam khotbah selama 30 menit, pola pikir dan gaya hidup seseorang yang sudah bertahan dalam hitungan tahun bisa berubah dengan cepat”, ucap sang pendeta menutup khotbahnya.
“Makasih Pak Pendeta, saya sangat terberkati melalui Firman Tuhan yang telah Pak Pendeta bagikan”, sahutku sambil tersenyum.

“Baiklah Saudara, segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran, seperti yang tertulis di 2 Timotius 3 ayat 16. Semoga Saudara cepat sembuh dan semakin rajin melayani Tuhan. Apakah ada pergumulan lain yang ingin kita doakan bersama ?”, responnya lagi.

“Ada Pak Pendeta, saya ingin agar saya bisa melayani Tuhan dengan jiwa, raga, waktu, pikiran, dan semua yang telah Tuhan karuniakan untuk saya, tidak dengan uang yang saya cari dengan kerja keras saya”, ujarku dengan penuh kesadaran. Inilah dasar permasalahanku selama ini. Hidupku tawar, hambar dan datar karena aku hanya memikirkan permasalahan di dunia. Aku hanya memikirkan bagaimana mempersembahkan uang untuk Tuhan, tapi tubuhku tetap menghamba pada hal lain. Uang, kesenangan duniawi, rutinitas yang membosankan, dan semua yang aku anggap sia – sia. Inilah cara Tuhan menegurku. Mulai dari perusahaan ayahku yang gulung tikar, perusahaanku yang menyusul perusahaan ayah, pacar yang selingkuh, kecelakaan yang membuatku koma selama 3 hari, sampai pada detik di saat bapak pendeta tadi mengingatkanku akan persembahan yang hidup. Bapak pendeta itu telah menjadi alat Tuhan agar aku berubah.

          Kami pun berdoa bersama, bapak pendeta yang memimpin. Seketika itu juga ada kekuatan yang dahsyat yang memasuki jiwa dan ragaku. Sebuah gerbang kehidupan yang baru telah terbuka untuk ku jalani. Setelah bapak pendeta itu keluar dari kamarku, akupun bernazar.

“Tuhan, ketika aku sudah sembuh dan keluar dari rumah sakit ini, aku akan melayani – Mu dengan segenap hatiku, dengan segenap jiwaku, dengan segenap kekuatanku dan dengan segenap akal budiku. Karena itulah yang harus ku lakukan sebagai respon atas Anugerah Keselamatan dari – Mu. Ketika suatu saat nanti aku kembali menonton Televisi Kehidupanku bersama dengan – Mu, aku akan melihat wajah – Mu yang tersenyum ketika Engkau menemaniku melakukan setiap aktifitas – aktifitasku”.

          Dua minggu kemudian, aku keluar dari rumah sakit. Aku bersyukur ketika Tuhan membangunkanku setelah koma selama 3 hari. Aku bersyukur ketika Tuhan mengizinkan aku untuk bertobat dan kembali menghamba kepada – Nya. Aku bersyukur ketika Tuhan menyembuhkanku dengan cepat. Aku pun mulai bergabung dengan pemuda/i di gerejaku untuk bersama – sama melayani Allah. Dan hidupku menjadi lebih bermakna jika ku lalui bersama Allah. Terpujilah Tuhan.



Notes :
Hasil copy paste dari Notes di Facebook "Windy Sitinjak" dengan judul "Semuanya Terasa Sia - Sia, Hanya Yesus Sumber Kehidupanku (Senin, 2 Juli 2012) oleh Windy Sitinjak (Catatan) pada 2 Juli 2012 pukul 23:22"

Tubuh Rentaku Masih Bisa Bekerja (Selasa, 12 Mei 2012)


          Aku adalah pria berusia 70 tahun. Dengan tinggi badan 165 cm dan berat badan 55 kilogram, aku terus menjalani hari – hariku dengan penuh semangat. Ya, memang tubuhku hanya terdiri dari tulang – tulang renta yang terbalut oleh kulit yang keriput. Tetapi semangatku seperti jiwa muda, bagaikan anak remaja yang baru saja menginjak usia 17 tahun.

          Aku tinggal bersama istriku dan seorang keponakanku, kami membuka sebuah warung untuk tetap menjaga kondisi ekonomi kami agar tidak semakin turun. Warung berukuran 3x3 meter itulah yang kami gunakan untuk tempat usaha. Warung itu sekaligus juga menjadi tempat tinggal kami selama 20 tahun ini. Tempat kami berteduh dari teriknya matahari, dinginnya hujan dan gelapnya malam. Tempat perlindungan kami yang patut kami syukuri, karena untuk membeli rumah berukuran 9x6 meter ini sangat sulit. Aku dan istriku harus menabung selama 15 tahun. Wajar saja, pekerjaan kami berdua memang serabutan, apa saja akan kami kerjakan untuk mendapatkan uang, tapi secara halal. Kami bukan datang dari golongan terpelajar. Kami hanya buruh tani yang mencoba merantau ke Jakarta, dengan harapan bahwa kami tetap bisa bertahan hidup.

          Aku dan istriku sudah menikah selama 70 tahun, tetapi Tuhan tak menghendaki kami untuk memiliki keturunan. Kami sudah mencoba meminta kepada Sang Kuasa dengan berdoa dan berpuasa,  kami juga sudah mengusahakan yang terbaik untuk mendapatkan Buah Hati, tapi Tuhan berkehendak lain. Ya, kami hanya menjalani kehidupan ini berdua selama 45 tahun, sebelum adik dari istriku meninggal dan menitipkan seorang anak perempuan berusia 15 tahun kepada kami. Adik dari istriku meninggal dalam sebuah kecelakaan bersama dengan suaminya. Mereka tertabrak sebuah mobil saat melintas di jalan raya. Supir Gila itupun mengambil nyawa dua orang yang kami sayangi dan menghancurkan harapan keponakan kami. Sejak itulah keponakan kami membantu kami mengusahakan warung kecil kami.

          Aku dan istriku merawat keponakan kami sampai akhirnya ia berkeluarga diumurnya yang ke 20 tahun. Apa daya keuangan tak cukup, keponakan kami menikah tanpa menyandang gelar pendidikan apapun. Kini penghuni rumah kami menjadi 4 orang, aku, istriku, keponakanku dan suaminya. Dengan ukuran rumah 9x6 meter (sudah termasuk warung berukuran 3x3 meter), kami tidur di ruangan yang seadanya, berlapis tikar dan diselimuti kain tipis. Tapi kami patut mensyukuri semua yang kami dapatkan, semua yang ada pada diri kami, semua yang ada pada keluarga kami. Karena semuanya adalah anugerah Tuhan, bukan hanya sekedar usaha kami.

          Hari ini, pukul 10 pagi, aku pergi ke pasar untuk membeli barang dagangan kami, yaitu barang – barang yang akan kami jual di warung kami. Dengan kondisi badan yang kurang sehat, aku memaksakan diri untuk menjalankan kewajibanku setiap 2 minggu sekali ini. Aku tidak boleh dikalahkan oleh penyakitku, justru aku yang harus melawan penyakit itu agar sembuh. Toh juga hanya batuk dan demam biasa.

          Aku berkeliling – keliling Pasar Inpres untuk mencari barang yang ku butuhkan. Selama 2 jam, aku berjalan kesana – kemari, memilih ini dan itu, mengeluarkan uang dan membawa barang – barangku sendiri. Sehingga pada siang yang sangat terik, aku kembali ke rumahku dengan menaiki sebuah angkutan umum. Barang – barangku memang banyak, tapi aku tak punya uang untuk menyewa Kuli Panggul, terpaksa aku harus memanggulnya sendiri. Untuk saja ada orang yang berbaik hati untuk membantu mengangkat barang – barangku ke dalam angkutan umum. Dan sebuah rezeki bagiku bahwa angkutan umum yang kini kunaiki adalah milik tetanggaku, ia mengantarkanku sampai ke depan rumahku. Jika aku menaiki angkutan umum yang lain, aku hanya diantar sampai ke depan gang rumah saja, sesuai dengan trayek angkutan umum itu. Saat mengantarkanku, tetanggaku itu memang menyalahi trayek angkutan umum yang seharusnya, tetapi ia melakukannya untukku, mungkin atas dasar iba. Untung saja penumpang yang lain tidak memprotes tindakan terpuji tetanggaku itu.

          Sesampainya aku di rumah, aku langsung membereskan barang daganganku. Menggantungkan biskuit – biskuit di depan warung, memasukkan wafer dan permen ke dalam toples, dan menumpahkan beras ke dalam wadah kayu. Siangnya aku tak akan istirahat, melainkan harus mencari pekerjaan tambahan. Untung saja Toko Sagu di dekat rumahku membutuhkan Kuli Panggul, aku mendaftarkan diri ke sana dan langsung diterima. Ya, lumayan untuk menambah penghasilan Rp 10.000 selama setengah hari. Aku tak akan lelah dalam bekerja, karena aku menginginkan rezeki yang halal, yang Tuhan sediakan untuk aku kerjakan. Berapapun uang yang kudapat, yang penting halal.

          Harapanku seputih rambutku. Aku hanya ingin mengerjakan yang terbaik untuk mendapatkan hasil yang terbaik, tak lebih dari itu. Aku memang tak pantas lagi untuk bermimpi menjadi orang yang sukses, tapi aku masih punya mimpi jika suatu saat nanti anak dari keponakanku sudah lahir, ia patut meneruskan semangat kakeknya ini untuk tetap berusaha di dalam keterbatasan ekonomi. Aku pun masih bisa bermimpi jikalau cucuku tersebut harus mampu merubah kondisi ekonomi orang tuanya. Ia harus menjadi orang yang sukses, berpendidikan tinggi, memiliki moral yang kuat dan selalu menghormati kedua orang tuanya. Itulah mimpiku yang harus terwujud.



Notes :
Cerita ini saya persembahkan untuk seorang Kakek yang pernah saya jumpai di sebuah angkutan umum KWK (Koperasi Wahana Kalpika) dengan trayek di salah satu daerah di Jakarta Selatan. Meskipun ia tak akan bisa membaca cerita saya, tapi saya ingin menunjukkan betapa hebatnya dia. Dengan postur tubuh yang sudah bongkok, suara parau, cara berjalan yang tertatih, ia masih bisa berbelanja ke pasar dan naik angkutan umum sendirian. Barang bawaannya pun sangat banyak (2 karung bras 50 kg, 2 kardus Mie, 2 rak telur ayam negeri, dan masih banyak lagi). Salut rasanya. Cerita ini merupakan gabungan dari realita dan imajinasi, saya hanya ingin menunjukkan betapa "stronger"-nya Kakek itu.



Notes :
Hasil copy paste dari Notes di Facebook "Windy Sitinjak" dengan judul "Tubuh Rentaku Masih Bisa Bekerja (Selasa, 12 Mei 2012) oleh Windy Sitinjak (Catatan) pada 12 Juni 2012 pukul 23:40"

Kamis, 09 Mei 2013

MOCCA, Rasa Pertama Takkan Terlupa


Rabu, 26 Oktober 2011, saat jam istirahat di Kampus Biru.
“Hei Miss Coffee, ada stand kopi tuh. Kamu penggemar kopi kan ?”, seru temanku kepadaku.
“Mmm.. Iya sih, gue suka kopi, tapi gak ketergantungan banget. Lagi pula, gue cuma suka sama kopi – kopi tertentu aja, yang menurut gue rasanya enak. Itu kopi apaan ya ? Kita ke sana yuk.”, balasku kemudian.

Kami berdua berjalan ke arah stand ABC Mocca.
“Silahkan dicoba ABC Mocca – nya.”, sahut gadis cantik penjaga stand.
‘Mocca ? Ihhh,,, Emang enak ya ? Mocca kan campuran coklat sama kopi. Pasti rasanya aneh. Eh, tapi,,, apa salahnya kalo dicoba dulu ?’, gumamku dalam hati.
“Mmm,, Pasti enak deh. Cuaca yang dingin bisa dinetralisir dengan kopi yang hangat.”, lanjut temanku.

          Masing – masing dari kami mengambil sebuah gelas kecil, sample kopi ABC Mocca untuk para pengunjung stand.
“Fuuhhhh,, Panas amat ini kopi. Fuuuhhhh,,,, Tiup – tiup terus ah, biar dingin.”, ujarku sambil meniup cairan coklat tua di dalam gelas plastik di tanganku.
“Sluuurrpppttt.. Ih, kok enak ya ? Kental banget rasanya. Lagi ah, fuuuuuhhh,, sluurrrpppttt..”, sahutku bersemangat.
“Sabar Say, kopinya masih panas. Nanti lidahmu melepuh loh.”, sahut temanku menimpali. Aku hanya bisa tersenyum.
Gerimis kecil yang membuat udara menjadi dingin telah dihangatkan oleh seteguk ABC Mocca.

           Kemudian siswa – siswi SD di sebelah kampusku datang ke stand tempat kami berdiri. Mereka mengantri untuk mendapatkan kopi.
“Widiiiihhh.. Anak SD minum kopi juga ?”, tanya temanku heran.
“Itu artinya, ABC Mocca hadir untuk semua golongan. Gak cuma untuk orang dewasa aja. Emang sih, gak baik kalo kebanyakan minum kopi. Tapi ABC Mocca kan ada kandungan susu dan gulanya juga, jadi rasanya enak, gak bahaya kok.”, sahutku menimpali.
“Yoi, dan kayaknya aku ingin menetapkan hati ke ABC Mocca nih. Kan selama ini aku nyoba – nyoba berbagai kopi terus, sampai aku tanya ke kamu kopi mana yang enak”, sambar temanku.
“Ya si Mocca ini yang enak. MOCCAsih rekomendasi ke temen – temen yang lain ah kalo kopi ini bener – bener enak. Hahaha...”, sahutku bersemangat.

           Itulah kisahku dengan ABC Mocca. Pertama kali ABC Mocca mampir di lidahku, aku langsung menyukainya. Sampai detik ini, aku masih mengingat rasanya yang khas. Sesuai dengan namanya, A – B – C (Asli Bikin Cinta), itulah yang ku rasakan dengan ABC Mocca. Cinta pada rasa pertama. Rasa pertama, takkan terlupa.



Notes :
Hasil copy paste dari Notes di Facebook "Windy Sitinjak" dengan judul "MOCCA, Rasa Pertama Takkan Terlupa oleh Windy Sitinjak (Catatan) pada 9 November 2011 pukul 18:51"