Senin, 06 Mei 2013

Minggu, 19 Desember 2010 (Mulutmu diciptakan untuk memuliakan Tuhan)


          Kemaren gue lihat gantungan Handphone temen gue. Isinya, "Jikalau kamu marah, janganlah berbuat dosa (Efesus 4:26)". Gue baru tau kalo ada ayat Alkitab yang isinya begituan. Secara logika, kalau emang manusia lagi marah, pasti dia berbuat dosa. Jujur aja ya, kalo gue marah banget, kadang2 sampe ngeluarin kata2 "Anjing","Tai", "Bangsat". Tapi gue jarang banget untuk "meledak" tanpa kendali seperti itu. Lagi pula, gue kan orang yang jarang marah, tapi sering BT. Hihihi,,, Kondisi kejiwaan yang sama2 gak ada suka cita di dalamnya.

          Setinggi apapun tingkat pendidikan orang (yang tau sopan santun untuk tidak mengeluarkan kata2 kasar), saat dia marah pasti dia tetap mengeluarkan kata2 kasar. Yang namanya orang lagi marah, pasti "meledak" dan akhir2nya bilang, "Maaf, khilaf". Ya, marah emang ada di luar kendali pikiran manusia. Dan marah itu bisa meledak secepat kilat, tanpa dipikir masak2. Tapi tergantung orangnya juga sih. Ada orang yang marahnya meledak (ngomel2, teriak2, malah sampe banting2 barang), ada orang yang kalo marah malah diem aja.

          Ada tertulis di Matius 12:34="Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati" Kalo emang kita lagi marah dan mulut kita mengucapkan kata2 kotor, itu artinya hati kita juga lagi kotor. Tapi terkadang amarah timbul karena dipengaruhi kondisi otak yang lagi ruwet/stress, bukan karena hati yang kotor. Intinya, kalo kita marah, itu artinya ada yang tidak beres dengan kondisi hati dan pikiran kita.

          Dan hari ini gue gereja pagi, khotbahnya diambil dari Zefanya 3:9-13=Tetapi sesudah itu Aku akan memberikan bibir lain kepada bangsa-bangsa, yakni bibir yang bersih, supaya sekaliannya mereka memanggil nama TUHAN, beribadah kepada-Nya dengan bahu-membahu (ayat 9). Yup, cocok banget sama isi dari gantungan Handphone temen gue. Dan cocok sama kondisi hati gue yang akhir2 ini selalu kelabu disertai amarah yang berkepanjangan, BT mulu. Ckckck...

          Seperti yang kita ketahui, manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, se-rupa dengan Allah, se-gambar dengan Allah. Tapi bukan berarti kalo manusia se-derajat kedudukannya dengan Allah. Setinggi apapun status manusia, dia pasti jauh lebih rendah dari pada Allah. Ya iya lah, Allah kan pencipta manusia, pasti jauh lebih tinggi dan jauh lebih mulia dari pada manusia donk.

         Allah melihat bahwa semua ciptaan-Nya adalah baik adanya dan punya tujuan yang baik. Semua yang ada pada diri manusia pasti punya tujuan yang baik (termasuk mulut manusia). Permasalahannya ialah, kenapa manusia lebih sering memberikan mulutnya untuk bekerja di ladang Setan dari pada di ladang Allah?

          Kata pendeta ressort gue sih, hal ini terjadi karena di dalam hati manusia itu belom dipenuhi oleh kasih yang datang dari Kristus. Jadi hatinya kotor dan mulutnya juga ikut2an kotor. Ya memang, selama manusia masih berbentuk sebagai manusia yang mempunyai tubuh dan hidup di dunia, manusia pasti memiliki kecenderungan untuk berbuat dosa. Maka dari itu, manusia butuh melatih PENGENDALIAN DIRI-nya, supaya IMAN-nya KUAT dan gak mudah jatuh ke dalam dosa.

          Tanpa kita sadari, omongan kita yang kita anggap "biasa aja", malah bisa menyakiti hati orang lain. Dan tanpa sadar juga kita sering bercerita, mengeluarkan uneg2 kita tentang seseorang, tapi malah tersaji secara subjektif, alias gosip. Tanpa sadar juga kita bercanda-canda mengeluarkan kata2 yang agak kasar tapi dalam konteks bercanda, eh malah dianggap serius sama lawan bicara. Kompleks ya masalahnya? Ckckckck...

          "Memang lidah tak bertulang", itu salah satu lirik lagu jaman dulu. Emang bener, lidah gak punya tulang, jadi lidah dapat bergerak dengan bebas kemana2 (tapi masih di dalam mulut). Artinya, manusia dapat dengan mudah untuk berbicara (dalam hal ini, berbicara mengenai keburukan orang lain). Sesuai dengan Notes gue yang lalu2, manusia jauh lebih gampang untuk melihat keburukan orang lain dari pada keburukan diri sendiri. Seperti kata pepatah, "Semut di seberang jalan terlihat, tetapi gajah di pelupuk mata tidak terlihat", atau di ayat Alkitab yang isinya, "Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?" (Matius 7:3). Kita tuh gampang dan suka banget untuk mengejek orang lain. Tapi giliran kita diejek, kita akan marah. Gak adil kan?

          Gue dapet tips dari seorang Kakak, anggota gereja gue. Kalo kita mau "meledak", kita hitung 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10 secara perlahan, kalo perlu sampai 20 atau bahkan 100. Dan akhirnya kita gak jadi marah. Ini teknik PENGALIHAN PIKIRAN. Awalnya pikiran kita meginstruksikan agar kita marah, mengomel, mengeluarkan kata2 kotor. Tapi kalo kita mengalihkan pikiran kita yang tadinya berencana untuk marah, tapi malah teralihkan ke hitungan2 angka tadi. Kita gak jadi marah. Penghitungan secara perlahan ini juga membantu kita untuk menenangkan kondisi jiwa kita yang lagi ruwet. Dan sepertinya masih banyak cara mengendalikan amarah yang bertujuan untuk tetap menjaga kekudusan mulut kita.

          So? Udah tau kan apa yang harusnya kita lakukan? Mengendalikan mulut kita (termasuk bibir dan lidah kita) supaya apapun yang kita ucapkan berkenan di hati-Nya. Semoga bermanfaat. God bless us.




Notes :
Hasil copy paste dari Notes di Facebook "Windy Sitinjak" dengan judul "Minggu, 19 Desember 2010 (Mulutmu diciptakan untuk memuliakan Tuhan) oleh Windy Sitinjak (Catatan) pada 19 Desember 2010 pukul 21:22"

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar